SEKILAS INFO
27-10-2021
  • 2 bulan yang lalu / Nama – Nama Lulusan yang Diterima Di Perguruan Tinggi Negeri, Perguruan Tinggi Swasta, dan Dunia Kerja Tahun 2021 : AHMAD ARYA R.(UIN Surabaya), MUH. ANGGI H. N. (UIN Sunan Kalijaga), MOCH. RHEZALDI N.Z.N. (ITAT Surabaya), MOH. FALAQ KHOMEINI (PENS Surabaya),RISWANDA SHOFANSA (POLINEMA Malang),MUH. KHOILUL ROHMAN (Politeknik Negeri Jember), Mochammad Rizky Santosa(Kepolisian RI “Bintara Polri”)
  • 2 bulan yang lalu / MOH. ARI NURHUDA A. (ITAT Surabaya), ADAWIYAH QONITA (STIKES Bahrul Ulum Jombang),AMIDDANA R.D.(Poltekkes Kemenkes Surabaya), AYUNDA DIANATUL I.(UIN Malang), DEWI INTAN A.(UNAIR Surabaya)
  • 2 bulan yang lalu / DIVA GAYATRI(Poltekkes Negeri Malang), DYAH AYU R.(UIN Walisongo Semarang), KHALIMATUS S.(IAIN Kediri), LUBABA UFA (UIN Malang), MUHAYYINATUL F.(IAIN Kediri)
  • 2 bulan yang lalu / NAJWA SYARIFAH S. (Poltekkes Negeri Surabaya), NETYA SYAFA P.B.(UNAIR Surabaya), TSABITAH NURIL A.(UINSA Surabaya), ULQY KHOIRUN N.A.(UTM Madura), YUNITA NUR(UPN Veteran Negeri Surabaya)
  • 2 bulan yang lalu / ZUHRIYAH A.H.(UINSA Surabaya), ADIKA R.(UIN Malang), AHMADIKA M.S.(UIN Yogyakarta), MOH. KHUSNUL L.A.(UIN Yogyakarta), MOH. WAFIUL A.(UNSWAGATI Cirebon)
  • 2 bulan yang lalu / MUH. ROMAHURMUZI F.(UIN SATU Tulungagung), MUH. MUWAFIQ K.(UIN SATU Tulungagung), ARGA Y.N.(UINSA Surabaya), AMALIA W.A.(UINSA Surabaya), DIAN RIFQI F.(UIN Malang)
  • 2 bulan yang lalu / DIVA A.P.(UNAIR Surabaya), NENY KHOIRUN N.(UIN Malang), NURUL RIZQI T.(Poltek Negeri Malang), SALSABIL F.H.(UM Malang), SALSABILA F.(UBHARA Surabaya)
  • 2 bulan yang lalu / SHOFI NUR A.(UIN Yogyakarta), SITI NUR R.(ISI Surakarta), WIHDATUL H.(UNESA Surabaya), HILYATUL A.M.(UIN SATU Tulungagung), ACH. AZIZY M.(UII Yogyakarta)
  • 2 bulan yang lalu / AKH. DWI RISMANTO(Al Azhar Kairo (Mesir), A. FUAD HABIB(UIN Yogyakarta), A. MUWAFIQ NADHIF(Cham International Islamic Center Timur Tengah), A. SULAIMAN(UIN Suska Riau), DIMAS RIYANTO(IAIN Kediri)
  • 2 bulan yang lalu / FATKHUR ROKHMAN(IAIN Syekh Nurjati Cirebon), M. FADILAH ASYHARI(UIN Yogyakarta), M. SYAHROFI ADLUL K.( UIN Suska Riau), MOHAMAD FAUZAN(UINSA Surabaya), MUH. IMAM AKBAR(UIN Malang)
  • 2 bulan yang lalu / MUH. VANSA DIMAS P.(UMSIDA Sidoarjo), MUH. ZAHIDIN MA’ARIF(IAIN Kediri), A. AQIL MUSADDAD(Al Azhar Kairo Mesir), A. BEGHTAS DHIYA’UL H.( Universuitas Bildad Al Syam Timur Tengah), MOCH. SYAMSUDDIN YUSUF A.(UIN SATU Tulungagung)
  • 2 bulan yang lalu / MUH. EKKY FAKHRUNNAJAH(UNWAHA Jombang), FIFI NUR A.(UTM Madura), FIRDA ZAJILAH R.(UNWAHA Jombang), ISNA NAZIDA A.(IAIN Kediri), MAULIDA EVA M.(UNWAHA Jombang)
  • 2 bulan yang lalu / NAFA CHISBIYAH(UNHASY Jombang), NAJWA KAMILAH(UIN Jakarta), SHINTA RATU PUTRI U.P.(UINSA Surabaya), SHAFA’ AFIFAH K.(UIN Bandung), AISAH CHUSNUL K.( KURSUS), AFWAJ RIZIQ(Mondok), MUH. HUSNUN NI’AM(Kerja), MUH. ALI AFLAH KHOLILURROHMAN(Kerja)
  • 2 bulan yang lalu / Madrasah Aliyah Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh Bahrul Ulum Mengucapkan Selamat Tahun Baru 1443 H
4
Des 2014

Oleh : Abd. Haris Arrozi

I

_MG_0201

Kontroversi seputar Aswaja tampaknya masih akan tetap menjadi polemik panjang yang akan terus menguras perhatian orang-orang yang peduli dengan pemikiran dan ummat Islam. Hal itu tentu bukan karena adanya rumusan NU yang dianggap telah menyempitkan lingkup penamaan Aswaja atau bahkan dianggap telah mengkebiri universalitas Aswaja, tetapi transformasi nilai-nilai Aswaja tetap merupakan aspek penting untuk dikaji secara serius, lebih-lebih bagi kalangan Nahdliyin yang secara simbolik telah menempatkan Aswaja sebagai identitas keIslamannya, sehingga Aswaja tidak hanya dianggap sebagai sosok pikiran yang parsial, sarungan dan bakiaan atau tradisionalisme ortodoks seperti yang dianggapkan sebagaian orang selama ini.

Salah satu aspek penting dari persoalan Aswaja adalah aspek histories, karena seperti kita ketahui bahwa faham Aswaja terbentuk melalui proses yang tidak sederhana, disamping membutuhkan waktu yang panjang, pembakuannya juga banyak menghadapi tantangan dan benturan dengan faham-faham lain, bahkan kontroversi itu juga terjadi dikalangan internal kelompok-kelompok yang menamakan diri Aswaja, seperti kelompok salafi dan kholafi.

Istilah Aswaja sebagai madzhab kalam atau aliran pemikiran seperti yang pepuler saat ini sebenarnya baru muncul pada era Al Asy’ari. Sebelumnya istilah Ahlus Sunnah lebih di identikkan kepada orang-orang yang mengikuti sunnah Rasul. Namun menurut As Sam’ani istilah itu juga dipakai sebagai lawan dari bid’ah, yaitu sebuah kelompok yang ingin mengembalikan segala persoalan ummat yang sudah terpolusi oleh prilaku-prilaku bid’ah kepada tradisi nabi. Dan pada perjalanan berikutnya istilah ini diberi identitas yang eksclusif yaitu sebagai suatu faham yang diarahkan kepada kelompok Mu’tazilah yang dianggap menyimpang dan mengabaikan tradisi nabi. ( Husien Muhammad, Kontroversi Aswaja, 2000;35)

Sedangkan Ahlus Sunnah dengan pengertian Ahlul Hadits muncul pada masa Ahmad bin Hambal yang mengklaim sebagai pembela Hadits Nabi yang paling konsisten. Kelompok ini muncul untuk mengconter Ahlul Ra’yi ( rasionalis/Mu’tazilah). Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai kelompok salafi yaitu kelompok yang mengajak kepada cara hidup Nabi Saw dan sahabatnya secara tekstual, suatu pemahaman tanpa takwil (Ibid, hal. 35)

Munculnya kelompok Rasionalis (Mu’tazilah) kata Masruhan, sebenarnya disebabkan oleh panggilan sejarah yaitu ketika harus dapat memberikan jawaban yang unggul atas keberadaan doctrinal yang diajukan oleh muslim pendatang baru dengan latar belakang budaya, agama dll. (2000;64). Ini berarti, lanjut Masruhan, kalam berfungsi sebagai alat. Tetapi dalam perkembangannya hal itu mengalami pergeseran fungsi menjadi tujuan bagi dirinya sehingga mengorbankan doktrin itu sendiri.

Lebih jauh Al Jabiri menegaskan bahwa filsafat ( kalam) sejak kelahirannya sudah merupakan diskursus ideologis dan terlibat langsung dengan konflik ideologis antara Mu’tazilah yang kemudian merepresantasikan ideologi-ideologi negara dengan gnostik Syi’ah dan Sunni (2003;72 dst.) Untuk itu lanjut Al Jabiri, adopsi doktrin, penerjemahan dan penyebaran theologi yang dilakukan oleh periode awal Abbasiyah hususnya Al Makmun dan Al Mu’tashim bukanlah proyek tanpa dosa atau usaha keras dalam bidang pendidikan yang mengalir dari evolusi intelektual masa itu, tetapi merupakan bagian dari strategi untuk melawan kekuatan musuh yaitu aristokrasi Parsia (Syiah).

Ironisnya, kata Said Agil Siraj, Mu’tazilah yang mengembangkan pemikiran bebas dan selalu mengajak masyarakat untuk mempergunakan akal dan nalarnya, ternyata dalam upayanya terperosok dalam over acting, mengambil tindakan yang sangat tidak rasional dengan memaksa masyarakat untuk bersifat seperti mereka. Bahkan mereka sangat meremehkan Hadits, karena bagi mereka kebenaran yang diakui hanya menurut akal dan Al Qur’an. (kontroversi Aswaja, 2000;26)

Pada tahapan berikutnya, dukungan yang diberikan oleh kholifah telah memprovokasi kemurkaan pengikut Nabi (Ahlus Sunnah) yang dimotori Ibnu Hambal dan kegusaran ahli hukum literalis (fuqoha) pengikut Maliki yang tumbuh dibelahan timur.Akibatnya kelompok ahlil Sunnah/Hadits ahirnya berdiri sebagai satu kekuatan dalam melawan Mu’tazilah. Disinilah perbedaan antara Ahlul Hadits dan Ahlul Ra’yi kemudian terbentuk.

Puncak ketegangan itu terjadi setelah munculnya mihnah khuluqu al Qur’an atau yang popular denga inqusisition of Makmun menyangkut keterciptaan Al Qur’an. Kondisi ini membuat kaum tradisionalis (Ahlul Sunnah/Hadits) tidak lagi mampu menahan emosi sehingga ketegangan itu menjadi kontradiksi terbuka.

Logika keterciptaan Al Qur”an, kata Masruhan, memiliki arti yang sangat strategis bagi terselenggaranya pemerintahan yang autokratik, sebab jika jalan pikiran itu diterima oleh para ulama tradisionalis yang mempertahankan keabadian Al Qur’an bahkan dalam wujud luteralnya, maka terbukalah jalan yang lapang bagi Al Makmun untuk menegakkan pemerintahan yang dikehendaki (Kontroversi Aswaja, 2000;66)

Karena tujuan itulah kiranya Al Makmun mengadopsi pikiran-pikiran Mu’tazilah, bahkan dengan tanpa segan-segan melakukan intimedasi dan taftisy terhadap kelompok-kelompok lain yang tidak sefaham dengannya.

Menghadapi kondisi itu, kelompok Hambali juga tidak kalah kerasnya. Mereka berjuang keras melawan setiap usaha untuk membatasi misteri Tuhan pada suatu masalah spekulatif Mu’tazilah (Arkun,1996;76) dan apotheosis (pemujaan) nya terhadap akal (F. Rahman,1994;124)

Situasi represif seperti disebutkan membuat masyarakat jenuh dan apreori dengan cara-cara yang ditempuh oleh pemerintahan Abbasiyah. Padahal kata Said Agil masa keemasan Islam berada pada masa itu (Al Makmun, Al Muktashim dan Wafiq). Menyadari situasi yang ada Al Mutawakkil putra Al wafiq menghentikan tindakan taftis, dan menutup aliran Muktazilah. Dan pada saat itulah mulai lahir hadits sataftariqu ummat……. Dan karena langkah itu pula Al Mutawakkil mendapat gelar nashir al sunnah.

Dalam kondisi yang membingungkan ini (hususnya bagi orang awam) kemudian muncul juga gerakan ketidak puasan terhadap aliran rasionalis yang dianggapnya kosong dan terhadap aliran ortodoks yang terlalu literer tekstualis dan kaku dalam menempatkan hadits. Pandangan mereka, kata Fazlur Rahman terbentuk atas dasar perkenalannya dengan tradisi dan penerimaannya secara gradual terhadap tradisi (1994;126)

Tokoh yang paling popular dari gerakan ini yang kemudian menjungkirbalikkan posisi kaum Mu’tazilah dengan dialektika mereka sendiri adalah Abu Hasan Al Asy’ari (330 H/945 M) yang dulunya merupakan murid yang cerdas dari Al Jubba’i (tokoh Mu’tazilah).

Tampilnya Al Asy’ari dengan pemikirannya yang dianggap moderat dan akomodatif dalam menyikapi kerasnya pertentangan diantara dua kelompok diatas, realatif mampu meredam konflik yang terjadi pada saat itu. Tampilnya Al Asy’ari tentu tidak sendirian, tetapi pada belahan lain yaitu di Samarkand juga muncul Al Maturidi (333 H.) dengan metodologi berfikir yang relatif sama dengan Al Asy’ari kecuali dalam beberapa hal seperti masalah ma’rifatullah, ukuran baik dan buruk, kasb dan ikhtiyar, dll.

Tampilnya Al Asy’ari, tampaknya juga bukan tanpa masalah, husunya bagi kalangan Ahlul Hadits (salafi) yang masih menaruh curiga atas keberadaannya sebagai mantan pengikut Mu’tazilah. Untuk itu dia menulis buku Al Ibanah ‘an usuuli al diyanah yang berisi pujaan terhadap Ahmad bin Hambal. Buku ini kata Imam Ghozali Said ditulis untuk mengamankan jiwanya dari kebringasan kelompok Hanabilah (Kontroversi Aswaja, 2000;120). Kemudian dia juga menulis kitab Al Luma yang mengkritik terhadap pemikiran Mu’tazilah yang dianggapnya over acting dalam menggunkan rasio. Tetapi setelah kondisinya berubah kamudian dia menulis kitab Istihsan al khowdl fi ilmi al kalam yang mengkritik cara berfikir kelompok ahli hadits yang cendrung ekstrim dalam menggunakan teks secara literer. Dalam kitab itu dia mengkritik kelompok Hanabilah yang tidak mau menggunakan rasio atau takwil dalam pemahaman Al Qur’an atau hadits..

Namun demikian pertikaian antara dua kelompok diatas tidak lantas berakhir. Ghozali Said misalnya mencatat bahwa dari proses pertikaian yang terjadi pada abad IV-V H./X-XI M. kelompok salafi boleh dibilang unggul karena dukungan penguasa. Bukti yang dapat disebutkan yaitu pada masa Al Qoim yang secara tegas mengabsahkan teologi salafi dan mengutuk teologi Mu’tazilah atau kholafi, namun setelah itu mengalami keredupan dan baru bersinar kembali pada masa Ibnu Taimiyah abad VIII H/XIV M. Beberapa tokoh pengikut madzhab salafi dapat disebutkan diantaranya; Ibnu Batta, Abu Ya’la, Ibnu ‘Agil, Ibnu al Jauzi, Ibnu Taimiyah dan Abd. Wahhab (Wahhabiyah)

Sedangkan teologi kholafi, setelah periode Al Asy’ari terus dikembangkan oleh Al Baghdadi (1037) al Baqillani (1013) al Juwaini (1085) dan Al Syahrastani (1153). Ditangan mereka konsep theologi Aswaja mengalami proses rasionalisasi dengan meninggalkan pola berfikir literer kelompok salafi, dan boleh dikatakan relatif sempurna untuk menjawab berbagai persoalan yang muncul saat itu. Tetapi perkembangannya belum seberapa dan boleh dikatakan mulai bergerak leluasa pada masa Al Ghozali karena dukungan seorang wazir yang bernama Nidhomul Mulk.

Beberapa konsep theologies dari kelompok salafi yang dianggap bertentangan dengan kelompok kholafi seperti yang difatwakan oleh Ibnu Taimiyah dan Abd. Wahhab sebagai penerus dan penggerak faham salafi (Imam Hambali) diantaranya bahwa duduknya Tuhan diatas arys serupa dengan manusia, Tuhan turun dari langit tiap malam seperti turunnya mamusia dari mimbar, ziarah makam Rasulullah atau ziarah qubur,berdo’a dengan bertawassul, thoriqot salafiyah dan istighosah hukumnya haram, begitu juga memasang qubbah diats kubur.

 

II

 

Kalau kita menengok sejarah munculnya theology Islam, aspek analisisnya tidak bisa dilepaskan dari apa yang menjadi polemik dikalangan mutakallimin pada saat itu. Polemik yang terjadi diantara mereka secara garis besar berkisar pada masalah-masalah yang berkaitan dengan Tuhan dan manusia yang meliputi sifat-sifat Tuhan, keadilan dan kekuasaan Tuhan, keimanan, kalam Tuhan, fungsi akal dan wahyu, janji dan ancaman, perbuatan manusia, melihat Tuhan di akhirat, dll.

Seperti telah disebutkan bahwa para mutakallimin memiliki pandangan yang berbeda dalam memahami dan mengilustrasikan masalah-masalah tersebut. Demikian juga yang terjadi dikalangan penganut faham Aswaja sendiri. Contoh yang dapat diambil diantaranya dalam penetapan sifat (itsbat at sifat) bagi Allah. Menurt Al Asy’ari, bahwa Allah mempunyai sifat-sifat seperti ilmu, hayat, sama’, bashr dst. Dan sifat-sifat Allah itu bakanlah zatNya. Al Asy’ari juga berpendapat bahwa Allah mempunyai wajah, tangan dan mata yang tidak akan hancur. ( Ilhamuddin, 1997; 43 dst.).

Pandangan ini berbeda dengan pandangan kaum Mu’tazilah. Menurutnya Allah tidak disifati dengan sifat-sifat yang terdapat pada ciptaanNya sebab yang demikian merupakan tasybih (penggambaran). Bagi Mu’tazilah Allah hanya memiliki dzat yang melekat pada diriNya.

Tetapi didalam menginterpretasikan ayat seperti kalimat yad, istawa ala al arsy dsb. Baik al Asy’ari maupun Mu’tazilah memiliki pandangan yang sama bahwa kalimat-kalimat itu tidak bisa ditafsirkan secara harfiyah, tetapi membutuhkan penafsiran atau takwil

Pandangan ini berbeda dengan kelompok salaf yang menetapkan bahwa sifat-sifat Tuhan sesuai dengan nama-nama yang ditetapkan sendiri oleh Tuhan dalam Al Qur’an atau Al Hadits dengan tidak mengubah lafaz dan maknanya, tidak meniadakan yang telah ditetapkan syara’, tidak mempertanyakan bagaimananya, tidak mempersamakan dengan selainNya, tidak mengingkari kebenaran zat, sifat dan perbuatanNya.. Bagi mereka kalimat istawa pada kalimat istawa ala al ‘arsy harus difahami sebagai istawa saja, cukup. Tentang bagaimana istawa Tuhan manusia tidak tahu. Mereka tidak menerima takwil karena menurutnya akal manusia terbatas. Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa walaupun akal manusia telah mencapai puncaknya namun tetap lemah dalam memahami zat Ilahiyah. Bahkan terhadap alam sebagai bagian ciptaanNya pun akal manusia tidak mampu memikirkannya. (Ilhamuddin, 1997;39 dst).

Pemahaman lateris seperti yang ditunjukkan oleh Ibnu Taimiyah dalam memahami teks-teks mutasyabihat juga bisa dilihat pada salah satu ungkapannya bahwa “duduknya Tuhan diatas Arys sama dengan duduknya Ibnu taimiyah diatas kursinya dan turunya Tuhan dari langit sama dengan turunnya Ibnu Taimiyah dari mimbarnya dan Tuhan itu diarah atas yang boleh ditunjuk dengan anak jari ke atas. (Sirajuddin Abbas, 1983;264) Karena pandangannya yang tekstualis inilah kiranya Ibnu Taimiyah oleh sebagian ulama kalam dikategorikan kedalam kelompok mutajassim atau atau mutasyabih.

Contoh lain yang dapat ditegaskan disini adalah teori kasb dan ikhtiyar. Menurut Al Asy’ari manusia bukanlah mahluk tak berdaya seperti faham Jabariyah atau mahluk bebas seperti faham Qodariyah atau Mu’tazilah. Al Asy’ari memandang bahwa kasb terjadi bersama-sama antara perbuatan yang diciptakan Tuhan dengan pilihan manusia yang tidak efektif sehingga perbuatan itu perbuatan Tuhan. Tapi dalam pandangan Al Maturidi walaupun Tuhan menciptakan segala sesuatu, manusia memiliki pilihan dalam kasb, dan dengan kasb itulah terdapat pahala dan siksa.

Jadi, pada hakikatnya al Asy’ari mempercayai otoritas al Qur’an dan al Hadits sebagai sumber hukum pertama dan utama dalam menghadapi berbagai persoalan, tapi disamping itu al Asy’ari juga menggunakan rasio/akal sebagai piranti dalam memperkuat nash dan memahami maksud dasar syariah. Bagi al Asy’ari seperti juga al Maturidi akal merupakan aspek skunder dalam memahami nash, yaitu ketika nash tidak mungkin difahami melalui penafsiran tekstual. Jadi, sebenarnya mereka tengah berupaya melakukan konvergensi atau mencari jalan tengah antara metode tekstualis Hanabilah dan metode rasionalis Mu’tazilah

Berdasarkan pada tawaran-tawaran konsepsional teologis seperti disatas, pandangan Al Asy’ari atau al Maturidy dianggap sebagai tawaran yang lebih akomodatif dan moderat dalam pemakaian aql dan naql. Karena itulah kiranya konsepsi mereka mendapatkan respon yang luas dikalangan ummat Islam dan mengakar hingga sekarang, bahkan menjadi system berpikir dikalangan penganut Aswaja dalam menghadapi persoalan theologies dan masalah pelik kehidupan.

Responsi positif masyarakat itu muncul setidaknya dipengaruhi oleh :

  1. Karena ajaran itu disampaikan dengan menggunakan istilah-istilah sederhana yang mudah difahami oleh masyarakat yang masih sederhana.
  2. Ajaran itu dianggap lebih menyentuh pada masyarakat karena dipijakkan pada tradisi masyarakat sehingga relatif mampu meredam gejolak yang terjadi pada saat itu.

Persoalannya adalah bagaimana konsep itu dipertandangkan dengan dinamika yang semakin plural dan semakin sarat dengan tuntutan pragmatisme dan rasionalisme Kita tidak bisa mengingkari bila ada asumsi yang mengatakan bahwa formalisme konsepsi al Asy’ari yang cendrung theosentris dan dinafikannya konsep al Maturidi yang lebih rasional – antroposentris telah berakses negatif berupa hilangnya rasionalisme berfikir yang berdampak pada kemunduran ummat Islam. Demikian juga kebertumpuan pada logika yang membawa argumen dari otoritas (ayat dan hadits) dan kesimpulan (keniscayaan untuk sejalan dengan kandungan teks) telah mereduksi “unjukan” kepada materi bentuk yang sederhana.(Arkoun, 1996;77)

Atau seperti diunjukkan oleh Said Agil Siraj, terjadinya pergeseran pemahaman terhadap upaya cerdas Al Asy’ari dan Al Maturidi yang sebenarnya dimaksudkan untuk menyelamatkan ummat yang berada dalam krisis, menjadi pelembagaan madzhab Asy’ariyah telah menyebabkan merosotnya dunia pemikiran Islam (2000;31). Bahkan Sayid Amir Ali seperti dikutip Dr. Masruhan secara lebih tajam menegaskan bahwa kemerosotan bangsa-bangsa Islam sekarang ini salah satu sebabnya adalah formalisme al Asy’ari (2000;67).

Namun demikian, kita tentu tidak bisa menafikan begitu saja upaya-upaya yang dilakukan oleh kedua imam diatas dengan sikap moderat sebagai ciri pencariannya, walau belum spenuhnya berhasil. Karena bagaimanapun, seperti disampaikan Dr. Masrukhan, bahwa tipologi pemikiran theologies dengan prinsip untuk tetap berpijak pada sunnah (tradisi) yang shohih dan pendekatan yang dapat memuaskan tuntutan penalaran tanpa mengabaikan terhadap makna tersurat teks, atau pemahaman agama secara tekstual dan kontekstual tetap merupakan pemahaman yang paling bisa dipertanggungjawabkan. (Masrukhan, 2000;73)

Itu artinya, walaupun zaman telah memaksa kita untuk patuh pada rotasi nilainya yang antroposentris, tetapi keteguhan prinsip dan pemahaman untuk tetap berpijak pada paradigma fundamintal konsep kegamaan dengan pemahaman yang holistic pada universalitas maqosidu al syariah harus tetap menjadi pijakan utama. Begitu juga transformasi nilai-nilai theologies itu harus tetap dikrangkakan pada prinsip dasar Aswaja itu sendiri, seperti al adalah, al tawasuth, al tawazun, serta dipijakkan kepada tradisi masyarakat yang menjadi basik transformasinya, dengan pemihakan pada keadilan dan kejujuran secara lebih jelas.

 

 

Daftar Refrensi

 

Said Agil Siraj. Ahlus Sunnah Wa Al Jamaah

Imam Baihaqi (ed) Kontroversi Aswaja

Dr. Moh. Arkoun, Pemikiran Arab

Fazlur Rahman, Islam

Muhammad Abid Al Jabiri, Post Tradisonalisme Islam

  1. Sirajuddin Abbas, I’tiqod Ahlus Sunnah Wa Al Jamaah

Data Sekolah

MA Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh
PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

NPSN : 20579998

Jl. K.H. Abd. Wahab Hasbulloh Gg. Pondok, Tambakberas, Tambakrejo, Jombang
KEC. Jombang
KAB. Jombang
PROV. Jawa Timur
KODE POS 61451

Statistik Website

Arsip