SEKILAS INFO
16-04-2021
  • 1 bulan yang lalu / MAKESTA dan Pelantikan Pengurus IPNU, Selasa-Kamis 23-25 Maret 2021
  • 1 bulan yang lalu / Pelantikan Pengurus OSIS Putri, Sabtu 20 Maret 2021
  • 1 bulan yang lalu / MAKESTA dan Pelantikan Pengurus IPPNU,  Selasa – Kamis 16-18 Maret 2021
9
Jan 2021
0
Bagaimana Imam Syafii Memperlakukan Santrinya yang Bebal?

Anda yang berprofesi sebagai seorang pendidik pasti memiliki pengalaman menghadapi murid bebal (bahasa Jawanya lemot), sulit menangkap dan memahami pelajaran meski sudah diulang berkali-kali. Lantas, bagaimana Anda menyikapi murid semacam itu? Saya yakin, sebagai pendidik Anda akan berbesar hati dengan tetap memotivasi dan membimbingnya hingga ia benar-benar paham.     

Kasus serupa di atas juga pernah dialami oleh Imam Syafii radliyallahu ‘anh. Dikisahkan oleh al-Subki dalam karyanya Thabaqat asy-Syafi’iyah, Imam Syafii memiliki seorang santri bernama Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi (174-270 H). Ia dikenal sebagai santri yang ekstra bebal, namun menjadi salah seorang santri kesayangan Imam Syafii.

Semasa nyantri, Rabi’ sudah dikenal sebagai muadzin Masjid Jami’ Amr bin al-Ash di Kota Fustat, Mesir. Setiap masuk waktu shalat, ia segera bergegas menuju masjid dan mengumandangkan adzan. Tak hanya itu, ia juga dikenal sebagai abdi ndalem Imam Syafii. Di Tengah kesibukannya sebagai abdi ndalem ia tetap aktif menghadiri majelis ilmu yang diasuh oleh sang guru. Hanya sesekali saja ia berhalangan hadir, itupun disebabkan karena memenuhi hajat sang guru. Alhasil, dari sisi akhlak, pengabdian, dan kesungguhan belajar, Rabi’ adalah yang terdepan di antara santri-santri yang lain. Inilah sisi lain dari Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi yang menjadikan Imam Syafii begitu menyayanginya.

Problem utama Rabi’ dalam belajar adalah sulit menangkap pelajaran yang disampaikan gurunya. Dalam hal ini ia tergolong santri yang ekstra bebal, atau lemot. Bagaimana tidak, pelajaran sudah disampaikan dan diulang hingga empat puluh kali, namun ia tetap saja tidak paham. Karena kekurangannya itu ia pun hampir putus asa, merasa malu pada dirinya sendiri, dan terutama pada gurunya.

Mengetahui suasana batin yang dialami oleh Rabi’, Imam Syafii pun memanggilnya secara khusus ke tempat sunyi untuk berbicara empat mata. Dalam nasihatnya, Imam Syafii berkata pada Rabi’:

لو أمكنني أن أطعمك العلم لأطعمتك

 “Rabi’, andai aku bisa memberimu makanan ilmu, niscaya sudah aku berikan makanan itu padamu”.

Maksudnya adalah bahwa ilmu itu tidak dapat diraih dengan cara instan seperti orang makan makanan, lalu kenyang. Ilmu hanya bisa diraih dengan kesungguhan dalam belajar serta kesabaran ekstra dalam melewati berbagai ujian yang dihadapi.

Demi kelancaran belajar Rabi’, Imam Syafii pun dengan besar hati mengajarinya secara privat. Akhirnya, berkat didikan Imam Syafii, di kemudian hari Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi dikenal sebagai ulama terkemuka penerus mazhab Syafii, di mana kualitas riwayatnya mengungguli koleganya, Imam al-Muzani yang juga sama-sama murid Imam Syafii. Bagaimana cara Imam Syafii memperlakukan dan mendidik Imam Rabi’ di atas mengisyaratkan bahwa sesungguhnya tidak ada santri bodoh. Yang ada hanyalah seorang santri yang belum menemukan guru yang mampu membimbingnya untuk menjadi orang berilmu. Sejatinya inilah PR kita sebagai seorang guru atau pendidik.[Miftakhul Arif]

Data Sekolah

MA Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh
PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

NPSN : 20579998

Jl. K.H. Abd. Wahab Hasbulloh Gg. Pondok, Tambakberas, Tambakrejo, Jombang
KEC. Jombang
KAB. Jombang
PROV. Jawa Timur
KODE POS 61451

Statistik Website

Arsip