SEKILAS INFO
26-05-2022
  • 1 bulan yang lalu / Nama – Nama Lulusan yang Diterima Di Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta Tahun 2022 : NABIELAH MAJDAH A.(UNESA), NUR SAFIQOH A.(UNESA), HARITSAH NI’MATUL K.(UNESA), ALYA RAHMA D.(UNAIR), KHOIRUN NISA'(Politeknik Negeri Batam), TRIANA WATI(Univ. Trunojoyo), DELIMA DAWAUL Q.(UIN Malang), PUTRI MAIA S.(UIN Malang), SINTIA NURUL K.(UIN Malang), NI’I GUSTI N.(Politeknik Negeri Malang)
  • 1 bulan yang lalu / MOH. HUSSEIN N.C.(IAIN Kediri), NIZAMUDIN AULIA(IAIN Ponorogo), ANDUNG A.(IAIN Ponorogo), AAKHIDZATIS S.(UIN Jember), ANISSA FATIH(UIN Malang), HASNA NAJMATUL M.(IAIN Ponorogo), NABILA R.J.(IAIN Tulungagung), NAILA BAITA F.H.(IAIN Tulungagung), UMULAILATUL H.(IAIN Ponorogo), MUH. RAFFY A.R.(UIN Malang), DEFAN AULI R.(UIN Malang), AKHAM RIZAL N.(UIN Banten)
  • 1 bulan yang lalu / ASFIYATUSSUNDUSIYAH(IAIN Tulungagung), ERSY SALMA N.(UIN Yogyakarta), FAHWA TALIYATUN N.F.(UIN Malang), FADHILA AMALIA(UIN Yogyakarta), NAJWA NAMIYYAH A.(UIN Malang), MUH. BINTANG P.(UINSA Surabaya), M. MAHDIN N.F.(UIN Yogyakarta), SAEFUL FARIS(UINSA Surabaya), ELOK KHORIDATUZ Z.(UINSA Surabaya), PUTRI SOFIANA A.(UIN Malang), RUSFIANA SHINTA D.(UINSA Surabaya)
22
Mar 2022
0
Judul: Biografi KH. A. Wahab Chasbullah: Riwayat Pendidikan [Bagian 2]
Gus Dul, demikian panggilan muda Kiai Wahab, menghabiskan masa mudanya dengan belajar dari pesantren ke pesantren lain, dan dari satu guru ke guru lain. Kebiasaan berkelana mencari ilmu dan berpindah-pindah tempat ini telah menjadi kewajaran santri pada saat itu. Ketika ia telah menamatkan satu pelajaran pada seorang kiai, maka atas restu dan petunjuk sang kiai ia akan berkelana ke tempat lain untuk mendalami disiplin ilmu yang berbeda sembari tabarrukan (mencari berkah) pada kiai yang akan didatanginya. Kiai Wahab menghabiskan waktu selama kurang lebih 20 tahun untuk menjalani aktivitasnya sebagai santri kelana. Mulai belajar di usianya yang ke 7 tahun di pesantren milik keluarganya, Tambakberas, dan tamat belajar di usia 27 atau 28 berjalan. Wajar jika Zamakhsari Dhofier memiliki kesan mendalam atas karir intelektual Kiai Wahab. “ Pengalaman hidupnya menyajikan suatu contoh paling ideal dari karir pendidikan seorang santri yang akhirnya menjadi seorang kiai ternama pada zamannya”, demikian tulisnya. Kiai Wahab muda mengawali pendidikan agamanya di pesantren Tambakberas asuhan ayahnya, Kiai Chasbullah. Materi yang dipelajari adalah dasar-dasar ilmu keislaman seperti membaca al-Qur’an, ilmu tauhid, fikih, bahasa arab, dan dasar-dasar ilmu tasawuf. Di usia 13 tahun, Kiai Wahab dikirim oleh ayahnya untuk belajar ke Pesantren Langitan, Tuban, asuhan Kiai Ahamd Sholih. Di pesantren ini, Kiai Wahab tinggal dan belajar dalam waktu yang cukup lama, 9 tahun. Tamat belajar di Pesantren Langitan, Kiai Wahab melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Pesantren Mojosari, Nganjuk, Jawa Timur, asuhan Kiai Sholeh dan menantunya Kiai Zainuddin, seorang sufi agung di tanah Jawa saat itu. Dari Kiai Zainuddin inilah, Kiai Wahab memperoleh pelajaran mendalam dalam bidang fikih, khususnya dari kitab Fath al-Mu’in. Menurut Mun’im, Kiai Zainuddin memiliki pengaruh kuat atas kepribadian dan pemikiran Kiai Wahab. Di pesantren yang diasuhnya, Kiai Zainuddin menanamkan sikap inklusif atas ragam perbedaan yang ada pada kepada para santrinya. Terbukti antara lain setiap akhir tahun para santri dibiarkan menyelenggarakan pentas seni yang diminati sendiri, dan dipentaskan santri sendiri. Untuk itu, beberapa bulan sebelum acara para santri dengan rombongan masing-masing ada yang belajar ludruk ke Jombang, belajar Jatilan ke Tulungagung, belajar Ketoprak ke Madiun, belajar wayang ke Solo, dan sebagainya. Kiai Wahab muda adalah salah satu di antara mereka. Pendidikan keagamaan di pesantren tersebut juga sangat terbuka. Para santri dipersilahkan memakai mazhab pemikiran yang disukai, juga diajarkan memecahkan berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan secara lebih luwes dan toleransi. Tak heran, bila Kiai Wahab dinilai jauh lebih longgar dan akomodatif dalam berfikir di banding teman-teman seangkatannya yang lain. Di pesantren ini, Kiai Wahab menetap selama 4 tahun. Dari Mojosari, Kiai Wahab melanjutkan perantauannya ke Pesantren Cepaka, Nganjuk. Namun tidak lama, hanya berselang selama 6 bulan. Mungkin karena pesantren ini tidak memiliki kiai yang tinggi pengetahuannya setelah meninggalnya pimpinan pesantren yang sangat masyhur pada akhir abad ke 19. Ia pun memutuskan pindah ke Pesantren Tawangsari, Sepanjang-Sidoarjo, asuhan Kiai Mas Ali dan Kiai Mas Abdullah yang masih saudara ibu kandungnya sendiri. Di pesantren ini, Kiai Wahab kembali mengasah wawasan fikihnya dengan mengkaji kitab al-Iqna’ kepada Kiai Mas Ali dan tajwid kepada Kiai Mas Abdullah. Merasa telah memiliki bekal pengetahuan agama yang cukup, Kiai Wahab Chasbullah melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Pesantren Bangkalan, Madura, di bawah asuhan Kiai Cholil, ulama paling masyhur se Jawa dan Madura di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Selain dikenal ahli nahwu (gramatikal Arab), Kiai Cholil juga dikenal laus sebagai seorang wali (orang suci) dengan kemampuan magis (karamah) yang antara lain mampu meramal masa depan santrinya dengan perilaku-perilakunya yang ganjil dan tak mudah dicerna oelh nalar awam. Kiai Ridlwan Abdullah, pencipta lambing NU dan Kiai Bisri Syansuri, pengasuh Pesantren Denanyar, adalah beberapa di antara teman seangakatn Kiai Wahab di Pesantren Bangkalan, Madura. Kiai Wahab tinggal di pesantren tersebut selama 3 tahun dan memperdalam pengetahuannya dalam bidang tata bahasa dan sastra Arab, antara lain dari kitab-kitab karangan Ibn Malik dan Ibn ‘Aqil, yakni Alfiyah berikut kitab-kitab sharh-nya. Setelah menyelesaikan pelajarannya di pesantren ini, Kiai Cholil menasihati Kiai Wahab untuk berguru pada seniornya, Kiai Hasyim Asy’ari, di Pesantren Tebuireng. Waktu itu nama Kiai Hasyim mulai masyhur karena ketinggian ilmu dan kecakapannya sebagai kiai. Nasihat dan arahan Kiai Cholil kepada Kiai Wahab dan santri-santri yang lain untuk belajar di Tebuireng tentu semakin meneguhkan keulamaan Kiai Hasyim, bahwa ia adalah seorang alim yang tinggi sekali ilmunya. Namun, sebelum Kiai Wahab mondok di Tebuireng, terlebih dahulu ia belajar selama setahun di Pesantren Bronggahan, Kediri, asuhan Kiai Fakihuddin. Di pesantren ini banyak kitab penting yang dikajinya seperti tafsir al-Qur’an, tauhid, tasawuf, sejarah Islam, serta kitab-kitab fikih dari mazhab Shafi’I semisal Fath al-Wahhab. Setelah menyelesaikan pelajarannya di Pesantren Bronggahan, Kiai Wahab sebagaimana pesan gurunya, Kiai Cholil, melanjutkan studi di Pesantren Tebuireng. Di pesantren ini ia tinggal selama 4 tahun dan mengkaji berbagai macam kitab, antara lain: Fath al-Wahhab, Mahalli, Baidawi, dan ilmu Isti’arah. Karena pengalaman kehidupan yang banyak di berbagai pesantren dan pengetahuannya yang cukup tinggi dalam cabang pengetahuan Islam, Kiai Wahab ditunjuk menjadi lurah pondok, sekaligus anggota baru dalam kelompok kelas musyawarh. Kelompok musyawarh adalah kelompok para ustad senior yang setelah belajar  di berbagai pesantren selama puluhan tahun dan memiliki pengalaman mengajar, dididik oleh Kiai Hasyim Asy’ari untuk menjadi kiai. Kegiatan terpenting dalam kelompok musyawarh ini ialah mengikuti seminar (bahth al-masa’il) yang membahas berbagai masalah atau soal-soal agama baik yang diatanyakan masyarakat atau yang dilontarkan oleh kiai. Praktik seminar ini dilakukan sebagai latihan untuk memecahkan masalah. Menurut catatan Zamakhsari, kelas musyawarah ini sangat efektif dan produktif. Semua anggota yang terlibat di dalamnya pada akhirnya menjadi kiai-kiai besar dan masyhur. Di antara teman seangkatan Kiai Wahab dalam kelas musyawarah ini adalah Kiai Manaf Abdul Karim, Lirboyo-Kediri, Kiai Abbas, Buntet-Cirebon, Kiai As’ad Syamsul Arifin, Asembagus, Sitobondo, Jawa Timur. Selain lurah pondok dan aktif dalam berbagai kegiatan, Kiai Wahab juga menggunakan waktu luangnya untuk mengajar para santri. Ini berarti bahwa selama 4 tahun di Tebuireng ia mencurahkan hampir seluruh waktunya khusus untuk mengembangkan kemampuannya sebagai persiapan menjadi pemimpin pesantren. Setelah mengenyam berbagai ilmu keislaman di pesantren, di usia yang ke-23 Kiai Wahab memutuskan berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Di tanah suci, Kiai Wahab berguru kepada sejumlah ulama ternama yang hidup di abad 14 H, antara lain Syekh Mahfuz al Turmusi (wafat 1338 H/1920 M), ulama asal Termas, Pacitan, Jawa Timur yang mukim dan mengajar di Makkah hingga wafat. Kepada Syekh Mahfuz, Kiai Wahab menamatkan pelajarannya tentang ilmu hukum, tasawuf, dan usul al-fiqh. Syekh Mahfuz sendiri adalah salah seorang ulama paling disegani dan berpengaruh pada akhir abad 19 dan awal abad 20, asal Nusantara. Ia dikenal luas sebagai ulama ahli hadis, ahli fikih dan usul al-fiqh, ahli qir’ah, dan tasawuf. Selain aktif mengajar di Makkah, Syekh Mahfuz juga memiliki banyak karya yang tersebar di berbagai belahan dunia. Dalam bidang hadis, ia menulis Minhaj Dawi al-Nazar (sebuah komentar atas kitab Nazm al-Bayquniyah), dalam bidang fikih menulis Mawhibah Dzi al-Fadl (komentar atas kitab al-Muqaddimah al-Hadramiyah karya Syekh ‘Abdullah Ba Fadal) terdiri atas 4 jilid besar dan merupakan kontribusi penting bagi literature fikih Shafi’iyah, juga Takmilat al-Minhaj al-Qawim) komentar atas karya Ibn Hajar al-Haytami, Minhaj al-Qawim). Selain itu, ia juga menulis literature penting usu; al-fiqh, yaitu Is’af al-Matali (komentar atas Jam’ al-Jawami, karya Taj al-Din al-Subky) dan Naylu al-Ma’mul (komentar atas karya Zakariya al-Ansari, Lubb al-Usul dan komentarnya: Ghayat al-Wusul). Bila kepakaran di bidang hadis Syekh Mahfuz banyak diwarisi oleh muridnya, Kiai Hasyim yang mengajar kitab Sahih al-Bukhari di pesantrennya, maka kepakarannya di bidang hukum Islam juga banyak diwarisi oleh muridnya yang lain, yaitu Kiai Wahab yang bergelar al-faqih (ahli fikih), meski Kiai Wahab sendiri sebenarnya juga cukup menguasai Sahih al-Bukhari dan Muslim. Selain Syekh Mahfuz, Kiai Wahab juga berguru pada ulama tersohor lainnya yang mukim di tanah suci. Kepada Kiai Muhtarom, ulama asal Banyumas, Kiai Wahab menamatkan Fath al-Wahab, salah satu kitab induk mazhab Shafi’I karangan Zakariya al-Ansari. Kepada Syekh Sai’id al-Yamani, dan Syekh Ahmad bin Bakry Shata, Kiai Wahab menamatkan ilu nahwu. Kepada Syekh Ahmad Khatib, Minangkabau, yang waktu itu menjadi mufti Shafi’I di Makkah, ia mendalami ilmu fikih. Kepada Kiai Baqir asal Yogyakarta, Kiai Wahab medalami ilmu mantik (logika) dan Kiai Asy’ari, Bawean, Kiai Wahab mendalami ilmu hisab (astronomi). Selanjutnya ia berguru kepada Syekh Abd al-Karim al-Daghistani, dan menamatkan kitab Tuhfah (Tuhfat al-Muhtaj karya Ibn Hajar al-Haitami). Lalu kepada Syekh Abdul Hamid asal Kudus belajar ilmu ‘Arud dan Ma’ani (sastra Arab), dan Syekh Umar Bajunaid dalam ilmu fikih. Ijazah (semacam lisensi keilmuan) istimewa diperoleh Kiai Wahab dari dua orang gurunya, yaitu Syekh Mahfuz dan Syekh Sa’id al-Yamani. Patut dicatat bahwa Kiai Wahab memiliki minat yang tinggi kepada bahasa dan sastra Arab. Tak heran banyak syair Arab yang dipelajari dan dihafalkan seperti kumpulan sajak Banat Su’ad gubahan Ka’ab bin Zuhair, dan sajak salawat Burdah gubahan al-Bushiri. Keduanya mengenai cinta Rasulullah dan sejarah hidup serta perjuangannya. Ditengah padatnya aktivitas mencari ilmu, Kiai Wahab selalu menyempatkan diri untuk menyalurkan hobinya: berdebat, pencak silat (seni beladiri), dan olah spiritual (riyadah). Untuk mengasah kemampuan debatnya, Kiai Wahab belajar retorika (ilmu debat: mujadalah) kepada Kiai Muchith asal Panji, Sidoarjo, yang usianya 6 tahun lebih muda dari Kiai Wahab. Kemampuan beretorika ini di kemudian hari berkembang pesat dan memainkan peranan penting dalam perkembangan karir organisasi Kiai Wahab. Ia adalah orator ulung yang sangat vocal menyuarakan aspirasi ulama pesantren pro-mazhab (tradisionalis) di tengah gempuran kelompok muslim anti-mazhab (modernis). Di lingkup aktivis Indonesische Studie Club (kelompok diskusi Islam-Nasionalis) di Surabaya, ia juga kerap menjadi pembicara utama yang mampu menghidupkan suasana. Dr. Soetomo, pendiri Indonesische Studie Club, bahkan mengaku terang-terangan selalu kalah debat dengan Kiai Wahab. Sedangkan di kalangan advokat (pengacara)Barat, Kiai Wahab termasuk orang yang diperhitungkan. Logika hukum yang dibangunnya selalu merujuk pada kitab Fath al-Mu’in (salah satu kitab fikih Shafi’iyah), namun cukup ampuh mematahkan argumentasi lawan-lawannya yang sarjana hukum. Selain belajar debat, kegemaran lain Kiai Wahab adalah belajar pencak silat. Ia sering kali masuk kandang pendekar-pendekar sakti untuk menguji kemampuan beladirinya. Kiai Abbas dan Kiai Mahfud, Bogor, Kiai Mas Ali, Surabaya, Kiai Mas Mansur, Cirebon, adalah pencak Wahab sewaktu mukim di Makkah. Kiai Abdul Halim, murid sekaligus sahabah Kiai Wahab, pernah bercerita alas an mengapa Kiai Wahab gemar belajar silat. “Santri harus belajar silat, supaya tidak kalah kuat dengan pendekar tarik al-salat (meninggalkan kewajiban salat), kata Kiai Halim menirukan Kiai Wahab. Bagi Kiai Wahab, seorang muslim, khususnya anak muda, harus mencontoh Rasulullah. Ia adalah pribadi hebat, selain sebagai Nabi, juga ahli siasat (politik), serta memiliki tenaga kuat. Naik unta dari Makkah menuju Madinah selama 12 hari untuk berhijrah, menjalankan petunjuk dari Allah. Karena keunggulannya dalam menyerap pelajaran agama, di Makkah, selain belajar, Kiai Wahab juga kerap menjadi guru bagi teman-teman sebayanya. (Sumber: Buku Fikih Kebangsaan karya Miftakhul Arif)

Data Sekolah

MA Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh
PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

NPSN : 20579998

Jl. K.H. Abd. Wahab Hasbulloh Gg. Pondok, Tambakberas, Tambakrejo, Jombang
KEC. Jombang
KAB. Jombang
PROV. Jawa Timur
KODE POS 61451

Statistik Website

Arsip