SEKILAS INFO
16-04-2021
  • 1 bulan yang lalu / MAKESTA dan Pelantikan Pengurus IPNU, Selasa-Kamis 23-25 Maret 2021
  • 1 bulan yang lalu / Pelantikan Pengurus OSIS Putri, Sabtu 20 Maret 2021
  • 1 bulan yang lalu / MAKESTA dan Pelantikan Pengurus IPPNU,  Selasa – Kamis 16-18 Maret 2021
29
Jan 2020
1
Kaji Pemikiran Mbah Wahab, Guru MAUWH Raih Gelar Doktor di UIN Sunan Ampel

Selasa 28 febuari 2020, Ust. Miftakhul Arif salah satu guru MA Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh Pondok Pesantren Bahrul Ulum menjalani ujian terbuka program doktor di UIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam ujian terbuka tersebut ust. Miftakhul arif sebagai promovendus mengahadapi tujuh penguji, yaitu  Prof. Dr. H. Aswadi, M.Ag (ketua Penguji), Dr. H. Hammis Syafaq, M.Fil.I (sekretaris/Penguji), Prof. Dr. H. Ali Haidar, M.Ag. (Promotor/Penguji), Dr. H. Ainur Rofiq al-Amin, M.Ag (Promotor/Penguji), Prof. Dr. Kacung Marijan, Drs, MA, Ph.D (Penguji Utama), Prof. Dr. H. Abd. A’la, M.Ag (Penguji), Prof. H. Achmad Jainuri, MA, Ph.D. 

Dalam disertasinya ust. Miftakhul Arif meneliti tentang pemikiran salah satu pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama yaitu K.H. Abd. Wahab Hasbullah, dengan mengambil tema “FIKIH KEBANGSAAN: Telaah Pemikiran Abdul Wahab Chasbullah tentang Kemerdekaan, dan Persatuan Indonesia”. Disertasi yang tebalnya hampir 400 halaman tersebut diuji dan dipertahankan dengan baik oleh ust. Miftakhul Arif, beliau terlihat sangat menguasai disertasi yang ditulis dan dapat menjelaskan dengan baik pemikiran kiai Wahab Hasbullah kaitannya dengan kemerdekaan dan persatuan Indonesia sehingga beliau mendapatkan predikat Cumlaude dan mendapatkan pujian dari seluruh penguji. 

Di dalam disertasi tersebut ust. Arif memngambil tiga masalah utama yang akan diteliti yaitu, 1) Bagaimana konsep fikih kebangsaan Abdul Wahab Chasbullah?. 2) Bagaimana pemikiran fikih Abdul Wahab Chasbullah tentang kemerdekaan dan persatuan Indonesia?. 3) Metodologi fikih apa yang digunakan oleh Abdul Wahab Chasbullah dalam melakukan konseptualisasi kemerdekaan dan persatuan Indonesia?.

Dari tiga rumusan masalah tersebut kemudian ust. Arif mengambil tiga kesimpulan yang menjadi jawaban dari rumusan masalahnya. Kesimpulan dari disertasi tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama: Pemikiran fikih kebangsaan Kiai Wahab mencakup beberapa unsur penting. 1) meletakkan semangat cinta tanah air sebagai manifestasi keimanan (hubb al-watan min al-iman). Implementasi cinta tanah air itu di antaranya diwujudkan dalam bentuk perjuangan merebut kemerdekaan serta menggalang persatuan nasional. 2) meletakkan politik sebagai medium (al-wasilah) dan agama sebagai tujuan (al-maqasid). 3) menerima Pancasila sebagai ideologi perekat dan pemersatu bangsa Indonesia, dengan keyakinan bahwa Islam telah menjiwai dan menjadi bagian tak terpisahkan dengannya. 4) menempatkan budaya Nusantara sebagai identitas nasional dan jati diri bangsa. Masing-masing dari keempat unsur tersebut memiliki peran: cinta tanah air sebagai ruh kebangsaan, raganya adalah institusi politik bernama negara, Pancasila sebagai alat perekat dan pemersatunya, sedangkan budaya Nusantara sebagai identitas bersama yang membedakannya dari bangsa-bangsa lainnya. Semua unsur tersebut, selain memiliki dasar fikih yang kuat, juga diperlukan demi memelihara keselamatan dan keutuhan bangsa serta negara, supaya tercapai masyarakat yang adil dan makmur di bawah naungan rahmat dan rida Tuhan Yang Maha Esa.

Kedua: Menurut Kiai Wahab kemerdekaan adalah hak setiap bangsa. Penjajahan ataupun perbudakan tidak sejalan dengan Islam. Terdapat empat macam kemerdekaan yang diperjuangkan Kiai Wahab. 1) kemerdekaan politik, dalam arti berupaya menghapus praktik kolonialisme (al-hurriyah ‘an al-istibdadiyah), 2) kemerdekaan ekonomi (al-hurriyah al-iqtisadiyah) melalui gerakan perkoperasian, 3) kemerdekaan pendidikan (al-hurriyah ‘an al-jahalah) melalui upaya pemerataan akses pendidikan secara adil, murah, dan berkualitas. Keempat, kemerdekaan berideologi Pancasila, dalam arti bahwa Indonesia selamat dan bebas dari pengaruh paham-paham ekstrem intoleran (al-hurriyah ‘an al-tatarruf wa al-afkar al-munharifah) baik berbaju komunisme, puritanisme (wahabisme), atau lainnya.

Memperjuangkan empat varian kemerdekaan di atas penting dilakukan dalam rangka mengamankan tujuan beragama dan bernegara (hirasat al-din wa al-bilad). Kemerdekaan di atas tidak mungkin diraih tanpa adanya persatuan. Menurut Kiai Wahab persatuan adalah senjata paling ampuh untuk menghapus penjajahan. Ada empat varian persatuan yang diperjuangkan Kiai Wahab, yaitu ukhuwah nahdiyah (solidaritas sosial atas dasar ikatan ke-NU-an), ukhuwah Islamiyah (solidaritas sosial atas dasar ikatan keislaman), ukhuwah wataniyah (solidaritas sosial atas dasar ikatan kebangsaan), dan ukhuwah insaniyah (solidaritas sosial atas dasar kemanusiaan).

Dalam menyatukan umat, Kiai Wahab sangat menekankan pentingnya dialog (musyawarah) di semua tingkatan, mulai skala lokal, nasional, hingga internasional yang rutin digelar secara periodik. Dengan dialog akan timbul sikap saling mengenal, memahami, dan menghargai, lalu dengan sendirinya timbul kebersamaan dan persatuan.

Ketiga: Dalam menjawab problem kebangsaan Kiai Wahab selalu merujuk pada karya-karya fikih mazhab Syafi’i. Sebab, sebagai muqallid berijtihad langsung dengan menggali hukum (istinbat) dalam teks al-Qur’an dan hadis menurut keyakinannya tidak diperkenankan. Karya-karya fikih tersebut adalah nusus al-shar‘i yang tak boleh ditinggalkan muqallid. Hanya saja dalam memahami dan menerapkannya dibutuhkan pembacaan kontekstual-metodologis (manhaji) sekaligus moderat (wasatiyah) melalui pelibatan maqasid al-shari‘ah, usul al-fiqh, dan kaidah fikih, serta analisis sosial yang bertumpu pada lima prinsip, 1) memposisikan maqasid al-shari‘ah sebagai kiblat hokum, 2) meletakkan teks fikih sesuai konteks dan maqasid-nya, 3) membedakan antara strategi (wasa’il) dan tujuan (maqas{id), 4) memutus perkara berdasarkan pertimbangan maslahat-mudarat yang paling dominan, 5) membuka ruang kritik atas keputusan hukum yang diambil demi mencapai kebenaran objektif.

Inilah yang peneliti istilahkan dengan pendekatan sosio-maqasid, satu pendekatan fikih yang menyatukan antara tiga unsur: maqasid al-shari‘ah, teks, dan konteks. Selanjutnya, aplikasi teori sosiologi pengetahuan sebagai pendekatan dalam riset ini menghasilkan temuan bahwa pemikiran kebangsaan Kiai Wahab dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu pesantren dengan tradisi keagamaan yang berwatak anti-kolonial, tradisi Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah yang mengembangkan pola pikir moderat (al-tawassut), adil (al-i‘tidal), berimbang (al-tawazun), dan toleran (al-tasamuh), kecenderungan ber-usul al-fiqh dalam melihat kasus hukum, serta pergaulan sosialnya yang luas. Penelitian ini menegaskan peran Kiai Wahab dalam perjuangan kemerdekaan dan usaha menjalin persatuan di indonesia. Yang lebih penting lagi adalah ijtihad politik tersebut didasari oleh landasan pemikiran keagamaan yang kuat yang bersumber pada fikih dan ushul fikih, sehingga mampu melahirkan gagasan besar yaitu persatuan antara paham kebangsaan dan paham keagamaan, sehingga keduanya tidak perlu dipertentangkan. (Zuhair Aqif)

Ibnu rifaiy, Rabu, 5 Feb 2020

Alhamdulillah, jarang ada sekolah tingkat madrasah aliyyah didik oleh guru doktoral.

Data Sekolah

MA Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh
PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

NPSN : 20579998

Jl. K.H. Abd. Wahab Hasbulloh Gg. Pondok, Tambakberas, Tambakrejo, Jombang
KEC. Jombang
KAB. Jombang
PROV. Jawa Timur
KODE POS 61451

Statistik Website

Arsip