SEKILAS INFO
16-04-2021
  • 1 bulan yang lalu / MAKESTA dan Pelantikan Pengurus IPNU, Selasa-Kamis 23-25 Maret 2021
  • 1 bulan yang lalu / Pelantikan Pengurus OSIS Putri, Sabtu 20 Maret 2021
  • 1 bulan yang lalu / MAKESTA dan Pelantikan Pengurus IPPNU,  Selasa – Kamis 16-18 Maret 2021
17
Jan 2021
2
Lakukan Cara Ini,Santri Mbeling Pasti Takluk


Memperlakukan santri yang belajar agama di pesantren itu harus ekstra hati-hati. Tidak boleh semberono. Sebab, mereka adalah wasiat Rasulullah sallallah ‘alaihi wasallam yang harus dijaga dan diperlakukan secara baik. “Fa idza ataukum fastausyu bi-him khairan (jika mereka mendatangimu, maka perlakukanlah mereka dengan baik)”, pesan Rasulullah sallallah ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Said al-Khudri.
Memperlakukan santri itu, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn al-Jamaah dalam Kitab Tadzkirat-us Sami’ wa-l Mutakallim, harus mengedepankan sikap tawadhu’ (rendah hati). Jadi, bukan hanya santri yang selalu dituntut bersikap tawadhu’ pada guru, melainkan juga sebaliknya. Guru sebagai teladan juga harus menunjukkan sikap tawadhu’ pada para santri. Dan, inilah yang diajarkan oleh al-Qur’an dalam QS. Al-Syu’ara’ ayat 215: “wakhfidz janahaka liman tabi’aka min-al mu’minin (dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang beriman yang mengikutimu)”.
Sikap tawadhu’ itu ditunjukkan, misalnya, dengan menyapa mereka ketika berjumpa atau berpapasan di jalan, menjamu mereka pada saat bertamu ke ndalem guru, menanyakan kabar mereka dan keluarganya, serta hal-hal positif lainnya yang menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang guru pada santrinya. Sikap tawadhu’ guru pada santri tidak akan membuat harga diri guru menjadi jatuh. Sebaliknya, semakin terangkat ke atas. Ibarat bola, semakin dibanting dengan keras ke bawah, maka bola tersebut akan semakin mental ke atas.
Sikap tawadhu’ ini pula yang diteladankan oleh para kiai panutan kita di saat mereka dihadapkan pada santri mbeling. Dikisahkan dalam buku Sejarah Tambakberas, almaghfurlah KH. Fattah Hasyim pada satu kesempatan sedang membangunkan para santri untuk salat shubuh. Salah seorang santri yang jago silat, sebut saja Sarkam, langsung njingkat (bangun karena kaget) saat dibangunkan Kiai Fattah dengan sorbannya. Secara refleks, Sarkam langsung pasang kuda-kuda dan mencengkeram kerah baju Kiai Fattah, seolah hendak mau memukul beliau. Sadar bahwa yang ada di hadapannya adalah Kiai Fattah, bukannya minta maaf, Sarkam malah kabur ketakutan dan penuh rasa malu.
Selang beberapa hari setelah kejadian, Kiai Fattah memanggil Sarkam untuk datang menghadap. Sambil tersenyum, Kiai Fattah dengan ketawadhuannya berkata pada Sarkam: “ayo Kang, aku sampean kancani mangan bareng, iki maeng tas oleh rejeki, ora entek yen dipangan ijen (Ayo Kang, kamu temani saya makan. Barusan dapat rejeki, tidak habis kalau saya makan sendiri)”. Sarkam hanya bisa diam dan tertunduk malu.
Demikian cara Kiai Fattah menundukkan hati santrinya yang mbeling. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan sikap lemah lembut, sabar, kasih sayang, serta tawadhu’. Inilah kunci kesuksesan para kiai dan para ulama terdahulu dalam mendidik para santri. Al-Buwaithi, ulama besar yang juga murid Imam Syafii, pernah menyampaikan nasihat gurunya dalam mendidik para santri: “isbir lil-ghuraba’ wa ghairihim min-at talamidz (bersabarlah atas orang-orang asing yang datang menuntut ilmu dan juga para santri)”. Semoga kita bisa meneladani mereka. Amin [Miftakhul Arif]

Ali Ghofur Ashfi Lamongan, Minggu, 17 Jan 2021

Subhaanallaaaah…..

Ini adalah tauladan dr seorang kyai yg sangat patut ditiru. Tdk hanya di Pesantren tapi juga di dalam masyarakat.

Khusushon Ila Mbah Yai Fattah Hasyim Alfaaatihah……

Amrow, Jumat, 29 Jan 2021

Mantab….

Data Sekolah

MA Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh
PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

NPSN : 20579998

Jl. K.H. Abd. Wahab Hasbulloh Gg. Pondok, Tambakberas, Tambakrejo, Jombang
KEC. Jombang
KAB. Jombang
PROV. Jawa Timur
KODE POS 61451

Statistik Website

Arsip