SEKILAS INFO
13-04-2021
  • 4 minggu yang lalu / MAKESTA dan Pelantikan Pengurus IPNU, Selasa-Kamis 23-25 Maret 2021
  • 4 minggu yang lalu / Pelantikan Pengurus OSIS Putri, Sabtu 20 Maret 2021
  • 4 minggu yang lalu / MAKESTA dan Pelantikan Pengurus IPPNU,  Selasa – Kamis 16-18 Maret 2021
8
Mar 2015

hqdefault     Bertempat di Aula Bung Tomo Pemkab Jombang, acara Sarasehan Kepahlawanan KH. Abd. Wahab Chasbulloh digelar. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 21 Februari 2015 ini dihadiri oleh sejumlah narasumber, antara lain KH. Hasib Wahab, putra dari alm. KH. Abd. Wahab Hasbulloh, Dr. KH. Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum PBNU dan Dr. Anton selaku Rektor Universitas KH. Abd. Wahab Chasbulloh (UNWAHA) Tambakberas Jombang dan juga penyelenggara.

Dalam paparannya, KH. Hasib Wahab menjelaskan pengalaman beliau selama diasuh oleh ayahandanya, Mbah Kyai Wahab. “Abah biasanya pulang dua minggu sekali, waktu beliau lebih banyak tersita untuk umat”, kenang KH. Hasib Wahab. Sejarah memang mencatat bahwa KH. Abd. Wahab Chasbulloh adalah tokoh kunci dalam pelbagai pergerakan. Beliau adalah pendiri Taswirul Afkar (1914), Nahdlatul Watan (1916), Nahdlatut Tujjar (1918) dan puncaknya adalah Nahdlatul Ulama (1926). Salah satu tujuan Mbah Kyai Wahab mendirikan NU, sebagaimana disampaikan oleh KH. Hasib Wahab, adalah supaya semua orang mulai dari Presiden sampai Kepala Desa mau menjalankan shalat lima waktu. “Abah juga pernah menyampaikan, untuk menjadi orang terhormat, seseorang harus memiliki salah satu dari tiga hal, yaitu; ilmu, kekayaan & kesaktian”, pungkas KH. Hasib Wahab. Mbah Kyai Wahab di samping dikenal memiliki pengetahuan mendalam, beliau juga dikenal sebagai Kyai kaya dan dermawan. Tidak hanya itu, beliau juga seorang jawara (pendekar) yang jago silat. Salah seorang putri Mbah Kyai Wahab, Hj. Mundjidah Wahab, pada suatu kesempatan bercerita bahwa ketika Kyai Wahab punya hajatan mengkhitankan putra-putranya, beliau kerap mengundang para jawara untuk hadir dalam walimah khitan tersebut. Para jawara itu dengan suka rela akan menampilkan aksi-aksi akrobatiknya, unjuk gigi kemampuan beladirinya.

Di sesi kedua, pemaparan disampaikan oleh Dr.KH. Hasyim Muzadi yang oleh KH. Hasib Wahab didaulat dan didoakan menjadi Rois Am pada Muktamar NU ke-33 yang akan digelar di Jombang pada 1-5 Agustus 2015 mendatang. Dr. KH. Hasyim Muzadi mengawali pemaparannya dengan mengutip salah satu petuah alm. KH. Ahmad Shiddiq bahwa seorang ulama itu memiliki empat krteria, yaitu (1) khasyatullah (rasa takut kepada Allah); (2) ‘amil bi ‘ilmihi (berilmu yang amaliyah, dan amaliyah yang ilmiah), artinya seorang ‘alim adalah seorang yang memiliki ilmu yang diamalkan, dan memiliki amal yang berlandaskan ilmu; (3) waqif ‘ala sya’nih (konsistensi/istiqamah); dan (4) bashir ‘ ala ahli zamanih (mengetahui kondisi umat pada zamannya). Keempat kriteria tersebut menurut KH. Hasyim Muzadi ada pada diri Mbah Kyai Wahab sehingga beliau patut disebut sebagai ulama.

Menurut Dr.KH. Hasyim Muzadi, Mbah Kya Wahab tidaklah membutuhkan gelar Pahlawan, yang beliau butuhkan saat ini adalah doa. Oleh sebab itu yang menjadi pertanyaan adalah untuk apa dan untuk siapa gelar kepahlawanan yang diperoleh Mbah Kyai Wahab tersebut? “Jawabannya tidak lain untuk mereka yang masih hidup agar mampu meneladani dan melanjutkan pemikiran serta perjuangan-perjuangan Mbah Kyai Wahab”, papar Dr.KH. Hasyim Muzadi. Di Nahdlatul Ulama, Mbah Kyai Wahab dikenal sebagai tokoh perintis sekaligus penggerak, sedangkan ideolognya tidak lain adalah Rois Akbar, KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng yang telah meletakkan pondasi dasar ideologi Nahdlatul Ulama dalam Qanun Asasi yang beliau tulis. Dalam memimpin NU, Mbah Kyai Wahab lebih sering menggunakan pendekatan fiqh siyasi (fikih politik) sehingga pemikiran dan sepak terjangnya terbilang sangat maju pada zamannya dan terkadang kontroversial. Dalam kesempatan itu, Dr.KH. Hasyim Muzadi secara terus terang juga menyatakan bahwa dalam memimpin Nahdlatul Ulama, beliau banyak berkiblat pada Mbah Kyai Wahab, yakni lebih menggunakan pendekatan fiqh siyasi.

Menurut Dr.KH. Hasyim Muzadi, saat ini Nahdlatul Ulama mengalami pelemahan di pelbagai aspek, antara lain (1) pelemahan ekonomi; (2) pelemahan ideologi; (3) pelemahan budaya; dan (4) penyusupan ideologi asing (impor). “Untuk mengatasi pelemahan-pelemahan tersebut, maka saat ini kita tidak hanya cukup menghauli sejarah Mbah Kyai Wahab, tapi juga menghauli pemikiran, pergerakan dan perjuangannya untuk dilanjutkan dan dikembangkan”, pungkas Dr.KH. Hasyim Muzadi. (Arf)

Data Sekolah

MA Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh
PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

NPSN : 20579998

Jl. K.H. Abd. Wahab Hasbulloh Gg. Pondok, Tambakberas, Tambakrejo, Jombang
KEC. Jombang
KAB. Jombang
PROV. Jawa Timur
KODE POS 61451

Statistik Website

Arsip