SEKILAS INFO
13-04-2021
  • 4 minggu yang lalu / MAKESTA dan Pelantikan Pengurus IPNU, Selasa-Kamis 23-25 Maret 2021
  • 4 minggu yang lalu / Pelantikan Pengurus OSIS Putri, Sabtu 20 Maret 2021
  • 4 minggu yang lalu / MAKESTA dan Pelantikan Pengurus IPPNU,  Selasa – Kamis 16-18 Maret 2021
27
Jan 2015

10628193_688357097923685_8496326797083864395_nOleh: M. Salim Rohman ( Kelas XII Agama)

Problematika hidup yang tengah dihadapi bangsa ini kian hari kian kompleks. Problem tersebut antara lain berupa kemiskinan, ketidakmerataan pembangunan, krisis identitas dan utamanya adalah kebodohan. Sungguh pun pemerintah telah menggulirkan berbagai kebijakan, faktanya pendidikan berkualitas di negeri ini masih cukup mahal, hanya orang-orang tertentu yang mampu mengaksesnya. Padahal sejatinya konstitusi kita telah mengamanahkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa adanya diskriminasi.
Problem lain yang tak kalah rumit ialah krisis identitas. Pesatnya arus teknologi informasi dan komunikasi telah menghilangkan sekat ruang dan waktu yang membuat kita bukan hanya menjadi warga negara pada satu sisi, tapi juga warga dunia di sisi lain. Dampak dari itu semua ialah mulai tercabutnya kita dari akar budaya serta nilai-nilai luhur khas nusantara. Hal inilah yang menyebabkan sebagian kalangan, khususnya agamawan tradisional, lebih bersikap defensif dengan menutup diri dari segala pengaruh luar (Barat). Sikap antipati terhadap segala pengaruh ini tentu bukan pilihan yang baik. Sama tidak baiknya dengan sikap terlalu membuka diri terhadap segala pengaruh yang masuk dari luar. Krisis identitas ini menandakan bahwa pendidikan karakter di negeri ini masih jauh dari harapan.

Pemuda; Agent of Change
Meski tidak mudah, segala persolan di atas masih sangat memungkinkan untuk diselesaikan. Dalam hal ini, bangsa kita menaruh harapan yang sangat besar terhadap generasi muda saat ini. Merekalah yang hingga detik ini masih diyakini sebagai agent of change (agen perubahan). “berikan aku sepuluh orang pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia”, ujar Bung Karno. Ucapan Bung Karno ini tentu mengandung pesan bahwa seorang pemuda seyogyanya memiliki semangat, kemauan serta komitmen untuk melakukan perubahan sesuai dengan kemampuan serta kapasitas diri masing-masing. Majunya suatu bangsa tentu bergantung pada bagaimana kondisi generasi muda saat ini. Oleh sebab itu, adalah tanggung jawab kita bersama untuk mendidik generasi muda saat ini agar menjadi generasi yang tidak hanya memiliki kematangan intelektual, tapi juga spiritual, dan yang tidak kalah penting adalah menanamkan rasa cinta tanah air (nasionalisme).

index
Pendidikan; Poros Perubahan
Tahun 2045 kelak usia kemerdekaan Indonesia telah genap satu abad. Tahun tersebut adalah momentum terbesar untuk menunjukkan kepada dunia bahwa inilah Indonesia yang didamba-dambakan oleh founding fathers bangsa ini. Masih ada waktu 30 tahun lagi bagi kita untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa. Ini adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya pemerintah. Jika setiap orang terlibat aktif dalam aksi ini, maka problem yang mendera bangsa akan cepat terselesaikan sehingga muncul optimisme untuk menatap masa depan.
Masyarakat yang terdidik adalah kunci perubahan. Oleh sebab itu, pendidikan merupakan starting point untuk mengawali perubahan-perubahan pada sektor lainnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa bangsa ini memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah, namun kekayaan tersebut tidak akan maksimal memberikan manfaat manakala kita tidak mampu mengelolanya secara baik sehingga mengandalkan bangsa asing untuk mengelolanya. Untuk memiliki sumber daya manusia yang handal tentu tidak ada pilihan lain selain memajukan pendidikan yang berorientasi pada pembangunan karakter, pengembangan intelektual dan juga keterampilan. Hanya dengan pendidikan yang berkualitas mata rantai kemiskinan akan terputus.


Memaksimalkan Peran Santri dan Pesantren

Dewasa ini kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan mulai tampak, salah satunya terlihat dari adanya gerakan Indonesia Mengajar yang diinisiasi oleh Anis Baswedan yang saat ini menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Gerakan mengajar ini melibatkan generasi muda terbaik bangsa yang dikirim untuk mengajar di daerah-daerah tertinggal. Mirip dengan gerakan tersebut, pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia jauh hari telah melaksanakan gerakan tersebut. Para santri yang telah cukup matang bekal keilmuan dan spiritualnya, oleh kyai ditugaskan untuk berdakwah di komunitas masyarakat tertentu, khususnya di daerah-daerah yang dihuni oleh masyarakat yang masih awam agama. Selanjutnya santri-santri tersebut mendirikan pondokan sebagai pusat pendidikan yang dalam perkembangannya tidak hanya mampu mencerdaskan masyarakat, tapi juga memajukan perekonomian warga sekitar. Oleh sebab itu tidak berlebihan jika kita meletakkan pesantren sebagai motor penggerak perubahan.
Sebagai motor penggerak perubahan, ada tiga hal yang mampu dimainkan oleh pesantren, yaitu; (1) menumbuhkan sikap dan pola pikir moderat; (2) mengembangkan ekonomi berbasis kerakyatan; dan (3) merevitalisasi gerakan pengabdian santri dengan mengirim para santri ke berbagai pelosok negeri.
Menumbuhkan sikap dan pola pikir moderat adalah hal pertama yang harus dilakukan. Moderat adalah jalan tengah yang mengantarai kehidupan duniawi dan ukhrawi, intelektual dan spiritual, dan sikap bertahan pada kemapanan ataukah terseret pada arus perubahan. Dengan kata lain, sikap moderat akan mengarahkan kita untuk tidak menolak arus ataupun terbawa arus, tapi sebagai pengendali arus. Sikap moderat tersebut sebagaimana telah dicontohkan oleh Wali Songo dalam melakukan dakwah. Para Wali Songo mampu bersikap akomodatif terhadap berbagai tradisi serta kebudayaan yang telah ada, bahkan merubahnya menjadi tradisi baru yang menambah kekayaan budaya nusantara. Sikap moderat semacam ini sangat dibutuhkan demi menjaga kebhinekaan Indonesia.
Di samping sebagai penyemai ajaran moderat, pesantren juga memainkan peranan penting dalam pengembangan ekonomi kerakyatan. Hampir bisa dipastikan bilamana di suatu tempat terdapat pesantren, maka taraf ekonomi warga di sekelilingnya semakin meningkat. Itu bisa terjadi karena pesantren sebagai lembaga pendidikan memiliki keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para santri, karena itu masyarakat sekitar mendirikan toko-toko atau warung-warung yang menyediakan segala kebutuhan santri. Di sinilah terjadi proses perputaran uang. Manakala potensi ini terus dikembangkan dan dikelola secara modern dan profesional, maka manfaat yang diperoleh pun akan semakin besar dan dapat dirasakan oleh khalayak dalam skala yang lebih luas. Hal ini sebagaimana telah dibuktikan oleh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan dan Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan.
Sebagai seorang santri, penulis merasakan betul bagaimana pesantren menjalankan dua peran di atas. Dalam konteks pesantren sebagai lembaga pendidikan, ia tidak hanya membekali para santri dengan segudang pengetahuan an sich. Lebih dari itu, pesantren juga membekali para santri yang notabene adalah dari kalangan kaum muda dengan keteladanan serta beragam keterampilan, mulai dari keterampilan hidup sederhana hingga keterampilan mengajar dan berorganisasi. Di pesantren, penulis senantiasa diajarkan tentang pentingnya sebuah pengabdian (khidmah). Pepatah Arab mengatakan, “Asyraf al-nas khadimuhum”, sebaik-baik manusia ialah orang yang mampu ber-khidmah pada masyarakat. Dalam konteks inilah pesantren memainkan perannya yang ketiga, yakni mobilisasi pengabdian masyarakat. Di pesantren sendiri penulis diamanahi oleh dewan guru untuk membantu membina santri-santri junior lainnya untuk belajar memahami dasar-dasar agama.
Penulis optimis, manakala jiwa pengabdian yang telah tertanam kuat dalam diri para santri tersebut diorganisir secara baik dan serius, maka tidak akan ada lagi masyarakat Indonesia yang kekurangan tenaga pendidik yang mengajar bukan hanya bermodalkan teori serta pengetahuan, tapi juga mengajar dengan hati yang tulus serta mulut yang selalu basah dengan dzikir dan doa. Untuk itu penulis menginisiasi adanya Gerakan Santri Mengajar (GSM). Melalui gerakan ini penulis mengajak setiap santri yang memiliki kepedulian terhadap masa depan agama (Islam), nusa dan bangsa untuk turut andil mengambil bagian dalam upaya mencerdaskan masyarakat Indonesia. Relawan yang tergabung dalam Gerakan Santri Mengajar inilah yang akan mengubah manusia-manusia Indonesia menjadi manusia yang berjiwa Pancasila, yakni manusia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, ber-Kemanusiaaan yang adil dan beradab, menjunjung tinggi persatuan Indonesia, mengedepankan prinsip kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaran perwakilan, dan manusia yang memiliki cita-cita untuk menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

*Tulisan ini merupakan naskah yang dikirim dalam ajang Essay Competition yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Universitas Indonesia Jombang (IMUIJ) & berhasil meraih Juara I.

Data Sekolah

MA Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh
PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

NPSN : 20579998

Jl. K.H. Abd. Wahab Hasbulloh Gg. Pondok, Tambakberas, Tambakrejo, Jombang
KEC. Jombang
KAB. Jombang
PROV. Jawa Timur
KODE POS 61451

Statistik Website

Arsip