Syair adalah sesuatu yang ‘mahal’ dalam perjalanan peradaban manusia, terutama Timur Tengah. Syair layaknya makanan pokok dalam kehidupan masyarakat yang menetap di padang pasir tersebut. Berbeda dengan saat ini yang berfokus terhadap peningkatan literasi (minat baca dan tulis), syair pada era jahiliah memiliki fungsi yang beragam. Menjawab masalah keseharian, penasihat politik, tanda kehormatan antar suku merupakan beberapa fungsi dari syair. Sehingga, kedudukan penyair dalam budaya Timur Tengah, terutama Arab, sangatlah dihormati dan dibanggakan. Apabila ada suku/kabilah yang berseteru, kekuatan syair dapat menjadi solusinya.
Awal kedatangan Islam, orang-orang kafir Quraisy menggunakan syair sebagai bahan olokan kepada Nabi Muhammad SAW. Menurut kafir Quraisy, syair yang dilontarkan kepada Rasulullah akan melemahkan tekad penyebarkan agama baru tersebut. Keinginan mereka tidak berhasil karena ada beberapa sahabat yang unggul dalam bidang syair. Dulunya, para sahabat ini adalah penyair terkenal era jahiliah, seperti Abu ‘Aqil Lubaid bin Rabi’ah, Al-A’sya Maymun bin Qais bin Tsa’labah, Ka’ab bin Malik, Abdullah bin Rawahah, serta ada juga sahabat Hassan bin Tsabit.
Hassan bin Tsabit lahir sekitar tahun 590 M di Madinah. Ibunya telah memeluk Islam sebelum Rasulullah melakukan hijrah, sehingga ada riwayat lain yang menyatakan bahwa Hassan bin Tsabit berusia 60 hari ketika umat muslim melakukan hijrah ke Madinah. Suatu ketika, Hassan bin Tsabit pernah melantunkan sebuah syair di dalam Masjid Nabawi. Umar bin Khattab menghampiri dan menegurnya. Lalu Hassan bin Tsabit berkata kepada Umar, “Dulu aku pernah membaca syair disini dan dihadapan orang yang lebih baik dari engkau wahai Umar (yakni Rasulullah SAW).” Kemudian Hassan bin Tsabit menoleh ke Abu Hurairah, “Aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, pernahkan kau mendengar Rasulullah mengatakan kepadaku, ‘Balaslah syair dari orang-orang kafir untuk membelaku! Yaa Allah dukunglah Hassan dengan Jibril!’ Abu Hurairah menjawab, ‘Ya, pernah.’” (Shahih Al-Bukhari, hadis no. 3212; Shahih Muslim, hadis no. 1713)
Jadi tidak semua syair yang dilantunkan itu haram, tergantung makna dan tujuan dari syair tersebut. Sebuah syair dapat menjadi haram dibaca ketika syair-syair tersebut membawa kepada sikap ghaflah (lalai) terhadap Allah dan Rasul-Nya. Tak jarang syair tersbut biasanya bersifat keduniawian saja. Akan tetapi, syair yang memuji Allah dan Rasul-Nya sangat diperbolehkan, malah dipuji dan didoakan oleh beliau SAW. Bahkan ada riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW menyiapkan mimbar khusus di masjid supaya Hassan bin Tsabit dapat berdiri untuk melatunkan syair-syairnya.
Hassan bin Tsabit adalah salah seorang sahabat yang mendapatkan keistimewaan melalui syairnya. Disaat sahabat-sahabat lain berjihad dengan menggunakan pedang, Hassan bin Tsabit melatunkan syair-syairnya untuk tetap membela Allah dan Rasul-Nya. Kecintaan Hassan terhadap syair tidak malah membuatnya terlena, tetapi malah semakin membuat Hassan mengerahkan kemampuannya untuk menciptapkan syair-syair hebatnya.
Dalam Shahih Bukhari, hadis nomor 3213, Al-Barra’ bin ‘Azib pernah meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Hassan bin Tsabit, “Hinakanlah orang-orang kafir dengan syairmu, sesungguhnya Jibril bersamamu.” Jadi, sebuah syair yang bertujuan untuk mengalahkan orang-orang kafir sangat dianjurkan. Hassan dengan keahliannya tetap membuat syair-syair belaannya tentang kemuliaan Islam.
Sahabat dari Suku Khazraj ini memiliki julukan ‘syair Rasulullah’ (penyairnya Rasulullah SAW) karena ia seringkali berada di samping Rasulullah ketika perang. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah, syair Hassan bin Tsabit lebih pedih bagi bidikan panah bagi orang-orang kafir. Hal tersebut karena orang kafir sangat mengagungkan kekuatan syair. bidikan syair Hassan bin Tsabit dapat menciutkan hati orang-orang kafir.
Hassan bin Tsabit sangat suka mengembara. Pasca wafatnya Rasulullah, ia mulai mengembara lagi. Berbagai wilayah ia kunjungi. Hingga akhir hidupnya, ada riwayat yang mengatakan bahwa Hassan bin Tsabit menjalani kebutaan pada kedua matanya. Ia tetap menjalaninya dengan tabah dan wafat pada 53 H.
Syair terdiri dari kumpulan kata-kata yang dirangkai indah oleh sang penyair. Kekuatan kata-kata cukup memberikan pengaruh besar terhadap psikologis seseorang. Maka salah satu pesan tersirat dalam perjalanan Hassan bin Tsabit adalah hendaknya kita selalu menjaga perkataan kita karena kekuatan kata-kata dapat menggerakkan hati seseorang. Pandai melihat situasi pun menjadi perlu untuk kita amati. Supaya kita tahu kapan waktu yang tepat kita mengangkat suara.
(Faridatun Ni’mah – Pendidik Sejarah MAU KH. Abd. Wahab Hasbulloh Tambakberas Jombang)