Biografi KH. A. Wahab Chasbullah: Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga (Bag.1)
Abdul Wahab Chasbullah, atau akrab disapa Kiai Wahab, lahir di lingkungan Pesantren Tambakberas (sebelum berubah nama menjadi Pesantren Bahrul Ulum, tahun 1965), sekitar 3 kilometer dari utara kota Jombang Jawa Timur, dari pasangan Kiai Chasbullah Said (ada dua versi tahun wafatnya : 1926 M. dan 1932 M), seorang saudagar kaya yang juga pengasuh Pesantren Tambakberas, dan isterinya, Lathifah (wafat 1951 M). Kiai Wahab adalah putra sulung dari delapan bersaudara: ia sendiri, lalu adiknya Abdul Hamid, Khodijah (istri Kiai Bisri Syansuri, pengasuh Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar), Abdurrochim, Fatimah (istri Kiai Hasyim Idris, asal Kapas Jombang), Sholihah (istri Kiai Muhaimin, asal Lasem), Zuhriyyah dan Aminatur Rohiyyah. Angka yang dicantumkan sebagai tahun kelahiran Kiai Wahab umumnya adalah 1888 M, mengikuti pendapat Aboebakar Atjeh: 1888. Namun sebagian berpendapat lain, Choirul Anam: 1887, Greg Fealy dan Barton: kisaran 1883-1884, dan menurut Tim Sejarah Tambakberas: 1886. Sumber-sumber tersebut hanya menyebut angka tahun, tanpa menyebut hari, tanggal, dan bulan kelahiran. Sebagian sumber lainnya mencantumkan Maret sebagai kelahiran, namun sebagaimana ditegaskan oleh Anam tidak ditemukan bukti otentik yang bias memperkuat klaim tersebut.
Dari beragam versi tahun kelahiran di atas, penulis menemukan data yang memperkuat pendapat Anam, yakni 1887 M sebagai tahun kelahiran. Dalam majalah Swara NU Nomor 3, Bulan Maulid 1346 H, Kiai Wahab mewartakan bahwa dirinya pernah menghadiri undangan rapat di Betawi (Jakarta) guna membahas rancangan kebijakan pemerintah Hindia Belanda soal ordanansi perkawinan tercatat dan ketakmiran (takmir masjid). Rapat yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Islam seperti KH. Mas Mansur (Muhammadiyah), KH. Abdul Halim (Perserikatan Ulama Majalengka), Tjokroaminoto (Sarekat Islam), dan beberapa tokoh lainnya itu berlangsung pada 23 Safar 1346 H, atau bertepatan dengan 22 Agustus 1927 M. Saat peristiwa itu berlangsung, Kiai Wahab mengakui sedang berusia 40 tahun. Mengikuti kronologi peristiwa tersebut, jika dihitung mundur 40 tahun ke belakang (1345 – 40 + 2 bulan, atau 1927 – 40), maka kita dapati angka 1887 M atau 1305 H sebagai angka tahun kelahiran. Selain terkonfirmasi oleh bukti otentik yang ditemukan oleh Anam berupa kartu anggota parlemen yang ditandatangani langsung oelh Kiai Wahab, usia KH. Abdul Halim saat menghadiri pertemuan tersebut adalah sekitar 40 tahun , sepadan dengan usia Kiai Wahab. Selain itu, Kiai Halim (Leuwimunding) menulis bahwa usia Kiai Wahab saat ayahnya wafat (tahun 1932 M/1351 H bersamaan dengan Kongres NU di Bandung) adalah 46 tahun menurut penaggalan hijriah. Jika dihitung mundur ke belakang: 1351 dikurangi 46 maka didapati angka 1305 sebagai angka tahun kelahiran Kia Wahab, atau 1887 jika dikonversikan ke masehi.
Silsilah Kiai Wahab Chasbullah, baik dari jalur ayah ataupun ibu, ke atas bersambung pada keluarga ningrat Jawa. Ia juga masih keluarga dekat KH. M. Hasyim Asy’ari, ulama paling disegani pada awal abad 20 yang juga pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang. Nasab keduanya bertemu pada kakek buyutnya yang benama Kiai Abdussalam, atau popular dengan sebutan Kiai Sihah (Arab: Sayhah). Ia adalah eks pemimpin pasukan Pangeran Diponegoro dengan daerah operasi perang di sekitaran Jombang, saat meletusnya Perang Jawa (1825-1830 M). di dusun Gedang, dua ratusan meter dari Tambakberas, Kiai Sihah mendirikan padepokan yang dikenal dengan sebutan Pondok Selawe (Bahasa Jawa: dua puluh lima) karena jumlah santrinya sebanyak 25 orang, dan dinamakan telu (Bahasa Jawa: tiga) karena hanya memiliki tiga buah kamar dengan spesifikasi pendalaman keilmuan yang berbeda. Kamar pertama menekankan pendidikan syariat, kamar kedua pendidikan kanuragan, dan kamar ketiga pedidikan tasawuf. Dari 25 orang santri tersebut, dua orang yang paling menonjol di antaranya diambil menantu oleh Kiai Sihah, yaitu Kiai Usman, yang dijodohkan dengan putrinya bernama Layyinah dan menurunkan KH. M. Hasyim Asy’ari; dan Kiai Said, yang dijodohkan dengan putrinya yang lain, bernama Fatimah dan menurunkan KH. Abdul Wahab Chasbullah.
Sepeninggal Kiai Sihah, estafet kepemimpinan pesantren dilanjutkan oelh kedua menantunya dengan mengembangkan pesantren di dua lokasi berbeda. Kiai Usman di Gedang, dan Kiai Said di Tambakberas. Dalam perkembangan berikutnya, keturunan Kiai Usman mengembangkan pesantren di lokasi lain tetapi masih dalam lingkup Jombang: Kiai Abdullah di Kapas, Kiai Asy’ari di Keras, dan putranya, KH. M. Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Sedangkan keturunan Kiai Said secara turun temurun mengembangkan di lokasi yang sama, yaitu Pesantren Tambakberas, tentunya dengan melakukan perluasan areal pesantren dengan membangun asrama-asrama (ribat) yang dikelola oelh anak-cucu keturunannya, mengingat semakin membludaknya jumlah santri yang datang untuk belajar dari waktu ke waktu. (Sumber: Buku Fikih Kebangsaan karya Miftakhul Arif)