Sejak SD Aruna sudah menaruh cinta pada dunia sastra. Ia tumbuh di keluarga sederhana dimana ayahnya bekerja sebagai seorang buruh tani dan bundanya merupakan penjual kue biasa di depan rumah, walau begitu bundanya selalu mengajarinya “Pendidikan dan cinta pada Bahasa ibu.” Sejak kecil Aruna telah menunjukkan kemampuannya dalam bidang sastra seperti sering menulis puisi dibuku hariannya sebagai perumpamaan dalam tiap detik kejadian dihidupnya, selain itu sesekali dia juga menulis cerpen di waktu luangnya berbagai lomba ia ikuti namun kemenangan tak selalu berpihak padanya. Setiap tingkatan lomba yang ia ikuti selalu berakhir tragis seperti halnya saat dia menduduki bangku kelas 6, ia diminta untuk mengikuti ajang kompetisi membaca puisi tingkat kota. Namun apalah daya saat acara berlangsung dan giliran nomer urut Aruna untuk menampilkan performancenya, ia malah demam panggung membuatnya Kembali dipermalukan, kegagalan kedua kalinya adalah Ketika ia mencoba berpindah profesi sebagai seorang penulis saja, namun juga tak membuahkan hasil. Kegagalan ketiga yang ia alami adalah mencoba menjadi seorang speaker public namun juga tak memperlihatkan hasil yang ia harapkan melainkan hanya sebuah komentar menyakitkan bahwa dirinya memiliki suara terlalu lemah. Bertahun tahun ia mengalami kegagalan berturut-turut, membuatnya frustasi hingga menutup dirinya. Bahkan hampir menyerah “ mungkin aku memang tidak cocok dengan dunia sastra, mungkin aku hanya penonton bukan pemain ” bisiknya suatu malam, Tetapi selalu saja ada sesuatu yang harus membuatnya kembali masuk dalam dunia sastra, sehingga kembali menumbuhkan cintanya pada bahasa ibu. Suatu hari ketika ia mengerjakan tugas bahasa Indonesia, di kelas saat membaca puisi entah kenapa seperti ada aliran dengan kekuatan untuk mendorongku jangan pernah menyerah dan kembali berdiri tegak.
Suatu pagi saat Aruna duduk di pojok kelas sepulang dari ruang kesiswaan, ia menatap dalam amplop putih dengan ukuran 15x5cm itu, undangan yang baru saja ia terima. Tulisan berbahasa inggris itu begitu jelas “international youth poetry reading singapore “ ia terpilih menjadi perwakilan sekolahnya, bahkan negaranya untuk membaca puisi di hadapan para peserta dari berbagai negara. Namun bukan Bahagia yg aruna rasakan melainkan rasa takut yang memenuhi benak aruna membuatnya dadanya juga terasa berat. Tak bisa membayangkan dirinya berdiri diatas panggung internasional, sementara demam panggungnya mulai menguasai dirinya hingga tak terkendali. serta rasa minder yang ia rasakan ketika peserta lain membaca puisi dengan bahsa Inggris, Mandarin, bahkan mungkin Spanyol membuatnya Kembali meragukan kualitas dirinya yang hanya memiliki kemampuan Bahasa Inggris di bawah rata rata dan keyakinannya yang rapuh. Walaupun saat pemberian undangan tersebut sudah ku tolak namun guru tersebut tetap memaksa bahwa “ sebuah keberhasilan harus ada banyak kegagalan, ini adalah sebuah peluang untukmu tumbuh lebih baik dan keluar dari zona nyaman aruna. Ibu yakin kamu bisa, kamu satu satunya harapan sekolah ini” “dan kenapa harus aku?” batinku lirih kemudian terpaksa menerima undangan tersebut, namun dengan sedikit keraguan yang menyelimuti selain itu, adanya harapan tersebut juga membuatku takut akan mengecewakan pihak sekolah entah telah berapa kali aku lakukan semasa hidupku.
“oy, aruna hey….” Panggil Garin samapai melambaikan tangannya dihadapan wajahku Membuat lamunan ku buyar dan sedikit terkejut
“ eh iya, ada apa?” sahutku reflek melemparkan amplop berisi undangan itu.
“eh apaan ini?.. international youth poetry reading Singapore….” ejanya setelah meraih amplop itu dibawah meja
“lo mau ikut lomba beginian?, sadar diri aja deh mending gak usah ikut ketimbang buang buang uang buat ke Singapore belum effort guru buat nganterin kasihan kalau gak menang, yang ada makal sekolah kita yang malu” ujarnya sambil melempar kembali amplop tersebut padaku dan tertawa sinis, bersama tiga teman dibelakangnya.
Sebenarnya kata kata itu cukup menusuk bagiku, hampir saja isak tangis ini terlontarkan namun untung saja aku masih bisa menahannya dan kembali menyahut Garin “enggak kok tenang aja aku cuman ditawari tapi aku belum berkeputusan….” Jelasku
“baguslah, harusnya ngomong gitu dong dari tadi, makasih ya udah mau berjuang buat gak bikin sekolah malu lagi…” ujarnya tertawa. kini isak tangis itu telah mendarat tepat di pelupuk pipiku dengan kasar aku menorehnya dengan punggung tanganku dan menremas erat amplop itu hingga terlihat banyak lipatan.
Garin merupakan anak dari pemilik sekolah ini, jadi wajar saja jika dia bilang begitu selain itu ia juga dikenal sangat femes dan diidola di kalangan anak cowok. Karena itulah ia jadi sering semena-mena pada murid yang pendiam dan memalukan sepertiku. Tak lama terdengar suara langkah dalam jarak yang dekat, kemudian kukenal dari suaranya membuat kepalaku terangkat dari atas meja serta merta dengan mata yang memerah karna manangis.
“Runa, udah jangan nangis… anggap saja itu hanya sekedar angin lewat yang berusaha membuatmu Kembali tak bisa keluar dari ruang sempit itu, ikuti kata htimu run… gw tau lo berbakat lo pasti bisa, biarkan orang-orang itu berkelana jauh menganggapmu remeh tapi buktikan bahwa semua itu lebih baik dari yang mereka pikirkan., ayolah run, jangan stalk disini buktiin kalau kamu udah berubah. Jadikan semua ini sebagai semangat yang baru” ujar Karina Panjang lebar.
Membuat hatiku tergugah, seketika tangis ini terhenti, seakan mendengar alunan rima yang menyejukkan. Pelukkan K arina seperti menyalurkan semangat positifnya padaku yang kini hampir terkendali oleh overthinking diluar batas.
Dalam pelukannya aku membalas erat seraya berkata “ makasih ya rin atas semua motivasinya, makasih juga buat semngatnya”
“iya aruna aku bakal selalu ada buat kamu dan mendukung kamu apapun yg terjadi” jawab karina
Karina adalah sahabat terbaikku sejak SD walaupun kini kami telah menduduki bangku SMP, tapi sifatnya tak pernah berubah tetep seperti Karina yang kukenal. Saat pertama kali bertemu ditempat bimbingan Club Sastra Ketika kita sama-sama ingin mengikuti lomba tapi dia lebih ahli dalan pembuatan cerpen dan Telling Story, sedangkan aku ahli di bidang puisi. Dia juga salah satu kekuatan aku bertahan di club hingga kini.
…
Malam itu, aku memberanikan diri menemui bunda yang sedang asyik mengulen adonan kue, meski keringat terus bercucuran namun semangat bunda tak pernah padam. Perlahan aku mendekati bunda
“bunda…” panggilku lirih
“aku ingin mengatakan sesuatu” seketika bunda meletakkan adonan dan mencuci tanganya yang penuh tepung lalu memberi arahan untuk duduk disampingnya
“katakan saja nak …” ujarnya lembut
“bunda aku ditunjuk sekolah untuk mengikuti lomba baca puisi…. Tapi aku takut” kataku terbata
“kenapa takut, bukannya aruna sudah terbiasa mengikuti lomba bukan?” tanya bunda kembali
“masalahnya lombanya tingkat nasional bunda pasti anak luar jauh lebih berbakat daripada aku, belum lagi jika aku terpaksa harus pakai Bahasa Indonesia karna kemampuan speaking bahasa inggrisku kurang belum lagi kalo mereka tidak mengerti atau malah tidak bisa memahaminya sama sekali …” jawabku sedih
“nak Bahasa itu bukan hanya tentang soal dipahami atau tidaknya, melainkan Bahasa adalah identitas. Jangan malu memperkenalkan Bahasa kita sendiri. Ingat kata Pramoedya Ananta toer “selama orang tidak menulis maka akan hilang dari sejarah” kalau kamu takut mengutarkan bahasamu lewat menulis dan membaca mau siapa lagi coba…. Perihal kamu berbakat atau tidak itu urusan belakang karna sepintar pintarnya orang tapi jika ia tanpa usaha makan tak akan pernah bisa ingat tuhan menilai setiap prosesnya bukan hasil makanya kamu harus lebih giat lagi belajar dan latihannya karna sesungguhnya tuhan maha tahu segalanya” ucapan bunda menggema dalam benakku dan kini keraguan hanya tinggal beberapa persen dari yang sebelumnya.
“pada intinya Aruna harus yakin bahwa semua itu gak ada yang tidak mustahil” lanjut bunda
…
Hari hari persiapan pun berjalan, aruna memilih puisi karya Chairil anwar berjudulkan “AKU” ia merasa puisi ini paling tepat untuk menggambarkan semangat keberaniannya sekarang. Ia juga berusaha membuat terjemahan sederhana ke Bahasa Inggris agar penonton bisa mengikuti. Tapi setiap kali latihan rasa canggung tak henti hentinya menghantui aruna selain itu tiap kali percobaan gladi bersih guru Bahasa Inggris yang juga salah satu juri sering berkomentar tidak enak tentang performaku entah dari sisi mimik wajah tata letak bahasa dan intonasi selalu ada saja permasalahannya.
“Aruna, kalo mau aman mending full Bahasa inggris saja “
“Aruna, mimik wajahmu kurang kau harus lebih tegas”
“Aruna perjelas intonasimu agar mereka paham” ujar beliau,
padahal guru Bahasa Indonesia yang selalu membimbingku saja tidak banyak bicara selain itu aku juga mengalami lewat teman-teman sekitar terutama Garin setelah mengetahui bahwa aku tetap bersih kukuh untuk ikut, membuatnya sering membullyku bahkan tak segan untuk menghilangkan teks yang biasa kubuat latihan. Aruna pulang dengan perasaan berkecamuk, ia ingin terus mempertahankan bahasa indonesia tapi takut dianggap aneh malamnya ia menulis di buku catatan hariannya. “apakah Bahasa ibu cukup kuat untuk bicara di panggung dunia?”
…
Hari keberangkattannya pun tiba, pesawat yg membawanya ke Singapore terasa sangat dingin. Dari jendela, ia melihat awan mengumpal seperti layaknya kertas putih raksasa. Membuatku teringat akan kata kata Sapardi djoko damono “aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yg tak sempat diucapkan kayu kepada pai yg telah menjadiabu” kalimat itu membuatku tersadar bahwa keindahan bahasa bukan dari popularitas melainkan dari kedalaman rasa. Sesampainya di negara yang dikenal sebagai kota singa karna identik dengan patung singa bewarna putih serta memancurkan air. Banyak napas lega yang kuhembuskan mengingat ini adalah kali pertama aku pergi ke negara tetanggga bukan untuk liburan melainkan memperkenalkan bahasa ibu kebanggan Indonesia.
Malam penampilan pun tiba aula besar itu dipenuhi oleh banyaknya sorot lampu dan ratusan peserta yang menunggu giliran panggilan dikursi VIP tepat didepan panggung serta wajah juri yang sangat Bahagia menyambut kedatangan kami sebagai peserta. Satu persatu perserta dari berbagai negara dipanggil dan memberikan performance yang begitu sempurna hingga aku sendiri terpukau oleh penampilan mereka saat gilirannku terpanggil, hati ini getar namun guruku meyakinkan bahwa semuanya akan baik baik saja
“Okay, let's welcome the next participant, from the equatorialcountry "Aruna Diwangkara", representative from Indonesia” suara tepukan tangan itu membuat semangat bangkit dan membara ditemani oleh cahaya lampu sorot yang menununku ke atas panggung. Kini aku menatap ratusan pasang mata asing yang belum pernah kutemui sebelumnya walau sedikit gemetar Aruna berusaha percaya diri dan menarik napas pelan. "I'm from Indonesia.Tonight I'll be reciting an Indonesian poem by Chairil Anwar." Sorakan itu membuat diriku lebih mantap dalam penyampaian puisi dengan lantang
“Kalau sampai waktuku,
Ku mau tak seorang pun merayu,
Tidak jugakau…”
Beberapa penonton tampak binggung mendengar bait pertama puisi yang telah kubacakan, ada yang berbisik-bisik. Namun aku memutuskan untuk mentup mata sejenak Kembali menarik napas lalu mulai melanjutkan
“tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang”
Suara Aruna bergetar namun semakin lama semakin mantap kata-kata Bahasa Indonesia mengalir begitu saja, lantang, dan penuh tenaga. Setelah itu ia membacakan terjemahan sederhana Bahasa inggris agar penonton memahami. Dan saat bait terakhir dibacakan, ia berteriak dengan peuh keyakinan
“Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi!...”
Seketika ruangan menjadi hening, namun selang beberapa detik sorakan tepuk tangan panjang menggema, termasuk para juri yang berdiri sebgai bentuk penghormatan dengan napas lega dan senyum yang terurai secara spontan hati ini pun menjadi tenang
“akhirnya aku bisa….” Batinku
Hingga saatnya tiba, seorang host yang sejak tadi berdiri di sudut panggung selaku membawa acara menghaturkan terimakasih atas participant kita pada ajang “international youth poerty reading Singapore” lalu mempersilahkan ketiga juri naik keatas panggung sambil membacakan nominasi. Dalam beberapa menit kemudian namaku tak kunjung terpanggil membuat hati ini kembali resah dihadapkan ketakutan atas kegagalan
“The most favorite female champion category was won by “Aruna Diwangkara” from Indonesia.......” seketita mataku berbinar seperti melihat cahaya indah diatas sana dengan bangga guruku menuntunku naik ke atas panggung.
Berdiri bukan sebagai deretan juara tapi hati ini tetap Bahagia bukan kepalang sambil menatap piala berwarna emas dan bertuliskan “the most favorite female” rasa bangga tak terhaturkan ditambah dengan selempang hitam yg menempel pada tubuhku dengan karangan bunga yang diberikan, melontar kan aroma kemengan bagi pejuangnya. Air mata mulai menetes karna haru dan lelah yang telah terbayarkan. Usai sesi foto dan penutupan acara guruku memelukku bangga berterimakasih atas perjuanganku selama sebulan terakhir ini kemudian beberapa peserta dari negara lain juga bergantian mengucap selamat padaku, hingga dari kejauhan muncul sosok pria berkulit putih, rambut pirang yg tertata rapih serta memakai jas dengan dasi biru muda mengikat lehernya. Dalam jarak berdekatan akhirnya aku mengenali bahwa dia perwakilan dari negara prancis lalu mengulurkan tangan seraya berkata
“Congratulations on your achievement. The language you use sounds beautiful, even though I don't fully understand it. It feels like listening to music.”
Lalu disahut oleh seorang guru dari jepang “You dare to carry your nation's identity. That's extraordinary.”
Aruna tersenyum lega akhirnya bisa memperkenalkan Bahasa ibunya di panggung dunia. Malam itu Ketika sampai dihotel ia Kembali menuliskan secercah kata yang mengambarkan kenangan beberapa jam lalu
“Bahasa Indonesia mungkin tidak dipahami semua orang, tapi ia punya jiwa. Jiwa itulah yang membuatnya hidup di panggung dunia.”
Sekembalinya ke Indonesia aruna disambaut bahagia oleh seluruh penduduk sekolahnya dengan mengenakan kemeja biru muda dipadukan dengan rok line A berwarna cream sambil mengenakan selempang yang kini telah menjadi sebuah kebanggaan. Setelah itu aku dipersilakan untuk berpidato didepan para siswa untuk memberikan sedikit motivasi.
“Bahasa Indonesia bukan bahasa kelas dua. Ia adalah rumah kita, identitas kita. Ingat kata WS Rendra, ‘Bahasa menunjukkan bangsa, bahasa adalah cermin budaya.’ Kalau kita malu berbahasa sendiri, berarti kita malu menjadi bangsa Indonesia.” Ucapku lantang.
Semua terdiam, lalu bertepuk tangan serta merta dengan pemberian karangan bunga, salain itu perdana memasangan spanduk berisi tulisan selamat dan fotoku yang terpajang besar disana.
“jejak kata-kata Indonesia kini telah tercetak di peta dunia” batinku.