Karir Sosial Mbah Wahab [Bagian 1]
Separuh lebih dari masa hidup Kiai Wahab diabdikan untuk agama, bangsa, dan negara. Kontribusinya bagi perjalanan bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia sangat besar. Saifuddin Suhri dalam salah satu alinea tulisannya memberi kesaksian:
Kjai Wahab seperti djuga halnja dengan kjai Hasjim Asj’ari dan lain-lain Pembina Nahdlatul Ulama jang telah tiada, mereka telah memulai menulis sedjarah jang amat besar. Menulisnja tidak hanja memakai huruf-huruf ketjil a-b-c dan sebagainja, akan tetapi djuga dengan huruf-huruf besar jang berupa perbuatan amal jang mendatangkan martabat serta keharuman bangsa dan masjarakatnja. Buku sedjarah jang ditulisnja itu belum selesai, sungguhpun dari padanja kita telah memperoleh petundjuk jang besar. Kewadjiban kita sebagai generasi penerus melandjutkan penulisan buku sedjarah tersebut dengan rangkaian amal serta prestasi jang tidak sadja tidak merusak bab-bab dan fasal-fasalnja, akan tetapi djuga mempertahankan irama bahasanja, bahasa perdjoangan jang telah ditulisnja.
Pernyataan Zuhri di atas menegaskan betapa besar jasa dan kiprah Kiai Wahab untuk bangsa. Ia melukiskannya dengan bahasa indah “menulisnja tidak hanja memakai huruf-huruf ketjil a-b-c dan sebagainja, akan tetapi djuga dengan huruf-huruf besar jang berupa perbuatan amal jang mendatangkan martabat serta keharuman bangsa dan masjarakatnja”. Apa yang diperbuat Kiai Wahab untuk bangsa ini bukan sekedar “menulis huruf-huruf kecil a-b-c” berupa retorika, imanjinasi, atau ide-ide abstrak yang tak mewujud dalam kehidupan nyata, melainkan “menulis huruf-huruf besar” berupa karya dan kerja nyata yang turut menentukan arah perjalanan bangsa Indonesia ke depan. Jejak-jejak pengabdian dan perjuangannya pun hingga saat ini masih bias dilacak dan dirasakan manfaatnya oleh khalayak umum.
Kiprah sosial Kiai Wahab dimulai sejak ia berstatus santri Tebuireng, di mana ia dipercaya oleh gurunya, Kiai Hasyim, untuk menjadi lurah pondok yang mengurusi dan menangani kebutuhan serta aktivitas keseharian para santri. Di pesantren ini, bakat kepemimpinan Kiai Wahab serta kepekaan sosialnya semakin terasah. Ia selalu merasa prihatin dan gelisah dengan kondisi bangsanya yang terjajah, miskin secara ekonomi, inferior secara mental, terbelakang dalam pendidikan, dan semakin tercerabut dari akar budaya dan agama (Islam). Kecitaannya terhadap bangsa dan Negara seudah mendarah daging, dimanapun ia berada. Tak heran saat melanjutkan pelajaran agamanya di Makkah, pikiran Kiai Wahab selalu dibayang-bayangi bagaimana membebaskan bangsanya dari keterjajahan.
Di lain pihak, kabar berdirinya SI (sebelumnya bernama Sarekat Dagang Islam) pada 1912 disambut antusias oleh umat Islam Indonesia. Organisasi politik yang dikomandoi oleh H.O.S Tjokroaminoto ini menjadi momentum bangkutnya semangat nasionalisme bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, yang selama puluhan tahun tertidur nyenyak. Tak butuh waktu lama, pada tahun 1914 telah berdiri 56 cabang SI dengan pengakuan sebagai badan hukum dari pemerintah colonial. Kiai Wahab bersama beberapa rekannya sesame warga Indonesia seperti Kiai Abbas dari Jember, Kiai Asnawi dari Kudus, dan Kiai Dahlan dari Kertosono, tak menyia-nyiakan momentum tersebut. Ia pun bersama para rekannya mendirikan SI cabang Makkah dengan harapan mampu berkontribusi menyebarluaskan ide-ide kesadaran nasional demi menyongsong cita-cita Indonesia merdeka. Belum sempat mereka mengembangkan organisasi ini, perang dunia I pecah (1914-1919). Kiai Wahab dan pelajar Makkah pada umumnya pulang ke tanah air. Namun, obsesi mereka untuk terus memajukan bangsa dan tanah air tak pernah pupus.
Kiai Wahab Chasbullah pulang dari Makkah pada tahun 1914, pada usia 27 tahun atau 28 tahun berjalan. Ia segera melibatkan diri dalam berbagai aktivitas pergerakan. Mula-mula ia perkuat Madrasah Mubdil Fann (sekolah Islam tingkat dasar bergaya modern) di Pesantren Tambakberas asuhan ayahnya, yang sempat ia dirikan tahun 1912, di sela-sela kepulangannya ke tanah air untuk menjemput ibu dan adiknya berangkat menunaikan ibadah haji. Meski sempat mengalami penolakan dari ayahnya, madrasah yang mengusung pembaruan sistem pengajaran pesantren ini terus berkembang dari waktu ke waktu. Madrasah ini pun menjadi sekolah formal pertama di Pesantren Tambakberas. Berikutnya, pada tahun 1965, Kiai Wahab juga memprakarsai penamaan pesantren yang berlokasi di Tambakberas peningalan leluhurnya dengan nama “Bahrul Ulum” yang berarti lautan ilmu. Intensitas aktivitas pergerakan Kiai Wahab semakin meningkat drastis saat ia tinggal bersama mertuanya, Haji Musa, di Kertopaten, Surabaya. Waktu itu, Surabaya adalah kota metropolitan terbesar kedua di Hindia Belanda yang menjadi pusat masyarakat kosmopolit dan kawasan perdagangan yang sedang berkembang. Surabaya juga menjadi pusat aktivitas politik pada tahun 1910-an denga SI, ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereniging), dan organisasi ain yang memiliki markas besar di sana. Kondisi ini sesuai dengan karakter Kiai Wahab yang dinamis dan memiliki minat berorganisasi tinggi. Sepuluh tahun berikutnya adalah masa yang menentukan dalam perkembangan pribadi dan karirnya dalam masyarakat. Sejumlah organisasi ia dirikan, mulai dari Taswirul Afkar (1914), Nahdlatul Wathon (1916), Nahdlatut Tujjar (1918), Ta’mirul Masajid (1923), dan puncaknya adalah Nadhlatul Ulama (1926). Empat dari organisasi ini, selain Nadlatut Tujjar, meski berbeda bentuk, namun pada dasarnya mengusung visi yang sama, yaitu visi keagamaan: menjaga akidah dan tradisi Islam ahl al-sunnah wa al-jama’ah di Indonesia, dan visi kebangsaan: mempersatukan umat Islam dalam ikatan agama, yang muara akhirnya adalah meraih cita-cita Indonesia merdeka. Oleh sebab itu, kolonialisme dan wahabisme adalah dua masalah utama yang dihadapi oleh Kiai Wahab Chasbullah beserta ulama pesantren lainnya dalam mewujudkan cita-cita luhur tersebut. (Sumber: Buku Fikih Kebangsaan karya Miftakhul Arif)