Memang Kenapa Jika Anak TKW?
“Anak TKW mana bisa sekolah tinggi, mentok-mentok paling ya sampai SMA”, kurang lebih seperti itu gunjingan yang kudapatkan dari tetangga sekitar rumah saat aku hendak menjalani SNMPTN.
Beberapa kali sempat kutangisi keadaanku yang seperti ini. Kerap kali aku meminta ibu untuk pulang saja ke rumah, bekerja di negaranya sendiri, tapi ibu tetap kekeuh ingin mencukupi kebutuhanku dengan bekerja di luar negeri. Kami pun sering berbeda pendapat terkait hal ini.
“Nanti biaya kuliahmu siapa yang menanggung? Pendidikan itu sangat penting,” kata ibu.
“Saya tidak kuliah juga tidak masalah bu, saya hanya ingin bertemu ibu, saya ingin ibu di rumah saja, biar saya yang bekerja.” timpalku.
“Ibu tidak bekerja untuk mendapat jawaban seperti itu, nak. Ibu bekerja untuk mendengar perkataan jika kau akan sukses.” sahut ibu melalui videocall.
“Bu, tapi tetangga…” ucapku sengaja kuurungkan.
Terlihat jelas raut wajah ibu yang tertunduk lesu. Kecewa akan ucapanku barusan. Berkali-kali ibu meyakinkanku bahwa aku bisa menempuh pendidikan tinggi meskipun anak seorang TKW yang kenyang dengan tanggapan miring para tetangga. Ibu selalu menasihatiku agar fokus belajar dan tidak terlalu menanggapi ocehan yang tidak perlu.
“Kenapa jika seorang Mentari, anakku, anak seorang TKW ini berharap bisa sekolah tinggi? Mentariku akan bisa menggapainya, sesulit apapun tantagannya.” kata ibu sore hari itu.
“Baik bu, saya akan berusaha sebaik mungkin.” Jawabku yang diikuti tetesan butiran air mata.
Wajah ibu perlahan melunak, dengan senyum lembut dan mata teduhnya ibu mengusap layar ponselnya, seakan-akan mengusap air mata yang merembes di pipiku, walaupun dia tau hal itu tidak akan pernah bisa.
“Mentari.” panggil ibu, aku mengangguk takdzim.
“Mentari anakku. TKW bukanlah pekerjaan rendah, bukan pekerjaan yang hina. Itu pekerjaan mulia. Mereka yang menjadi TKW adalah pahlawan devisa negara. Kau malu mempunyai seorang ibu TKW?” tanya ibu meyakinkanku.
Aku menggeleng kuat, tentu saja tidak. Ibuku adalah ibu terbaik sepanjang masa. Bodoh sekali aku jika menampik semua itu.
“Berjanjilah pada ibu nak. Kau akan sukses nanti, walaupun kau anak dari seorang TKW.” pungkas ibu.
###
Kini, di hadapan media massa, nama ibu amat sangat kubanggakan. Jumpa pers yang kulakukan sore ini telah membawaku meraungi cerita lama yang akan selalu menjadi sejarah kehidupanku. Sedari kecil aku sudah mempunyai problem terkait ekonomi hingga membuat keluargaku tidak utuh, aku benar-benar bertekad untuk menjadi konsultan keuangan yang sukses, tapi malah keterusan jadi Menteri Keuangan. Tampak berbagai media masa merekam dan siap memeberikan pertanyaan.
“Lalu bagaimana keputusan anda sebagai Menteri Keuangan terkait kasus seperti itu?” tanya salah satu wartawan stasiun televisi.
“Saya sudah berkoordinasi dengan Menteri Pendidikan, bagaimanapun juga pendidikan di negara kita kuat sekali pengaruhnya bagi keberlangsungan perekonomian negara. Memberikan kualitas pelayanan masyarakat yang lebih baik akan membuat negara kita berangsur-angsur sembuh dari problem turun-temurun ini.” kataku dengan tenang.
“Ada lagi Bu Mentari?” sahut wartawan lainnya.
“Saya kira cukup, harapannya Indonesia bisa menjadi negara yang berkualitas tinggi” jawabku sembari meninggalkan ruang konferensi pers itu.
Suara tepuk tangan memenuhi ruang sore itu. Aku beberapa kali tersenyum saat ada puluhan kamera yang menyorotku. Sebisa mungkin aku tidak tertawa saat mendapati ibu dengan kebayanya yang duduk di bangku paling depan, mengacungkan jempol lalu mengangkat tinggi-tinggi kamera ponselnya, berusaha memotretku. Persis seperti orang tua yang menyaksikan anaknya turun dari panggung setelah pentas seni. Ya tapi itulah ibuku. Ibu denga isi kepala yang luar biasa. Penuh rencana dengan usaha yang gemilang.
Penulis : Ivani Irtivaul Khusna
Editor : Risalatul Mu’awanah