Perwira Hebat
Sore itu, pada senja terakhir di bulan Juli, ditemani secangkir kopi lokal pahit yang menenangkan, aku duduk di depan tenda, beralaskan sandal jepit, sedang diam menikmati pemandangan di sekitar daerah perbatasan negara.
Selang beberapa menit kemudian, Bagaskara yang merupakan temanku di mess pelatihan dulu kini menyusul, ikut duduk disampingku dengan wajah yang sumringah. Terlihat jelas bagimana binar matanya menyala, seolah ingin sekali menyampaikan gejolak yang ada di dalam hatinya kepadaku. “Chandra, semalam aku habis bermimpi. Bagus sekali, sampai-sampai waktu aku bangun masih ada sisa air mata di pipiku.” Ujarnya demikian.
Aku bertanya-tanya. “Apa hal mimpimu itu sampai saat ini pun kamu masih setia tersenyum?.” Tanyaku.
“Indonesia merdeka bung. Tiba-tiba sekutu meletakkan senjatanya begitu saja. Dan bukan itu saja, kita semua bisa pulang menuju ke rumah masing-masing, bertemu sanak famili. I-itu terasa sa-sangat nyata astaga.” Bagaskara terbata, menahan isak tangis bahagianya.
Aku menepuk bahunya pelan. Melihat dia yang akan membuka mulut lagi membuatku terdiam. Temanku itu belum selesai bercerita rupanya. “Ada lagi kawan?.”
Bagaskara mengangguk antusias. “Tentu. Di dalam mimpiku aku melihat semua orang pulang dengan dijemput keluarganya masing-masing termasuk kamu. Tapi aku.” Suaranya tertahan, seperti berusaha menyiapkan kata terbaiknya. “Aku dijemput langsung oleh pendahulu negara kawan. Ada Bung Karno serta Bung Hatta yang datang menjemputku, mereka merentangkan tangan seolah ingin memelukku. Ada raja dan sultan dari berbagai daerah juga. Mereka datang untukku Chandra.”
Setelah itu dia tertawa lepas, begitupun denganku. Tapi entah mengapa mimpi Bagaskara terasa ganjil bagiku. Seperti ada makna tertentu yang sulit sekali aku jabarkan. Petang itu kuhabiskan minum kopi dengannya. Petang yang menyenangkan sekaligus terasa ganjil. Ganjil sekali.
Aku menghela napas pelan. “Semoga mimpimu itu bisa menjadi nyata.”
“Harus. Bagaimanapun juga aku sudah mempertaruhkan nyawaku untuk negeri ini. Jikalaupun harus kalah dan mati, aku rela identitasku dihilangkan. Karena bagiku, untuk apa memiliki nama dengan identitas negeri yang masih terbelenggu.” Ujarnya mantap.
Aku kenal Bagaskara. Dia tentara muda yang pemberani, temanku yang penuh kobaran api semangat. Ibarat jika para tentara lain termasuk aku sudah kehilangan semangat untuk berjuang maka Bagaskara akan datang menjadi bensin yang terus membuat api semangat di antara kami para tentara terus menyala.
“Berjanjilah kepadaku Chandra, jika kau akan menjadi perwira yang hebat kelak.” Tegas Bagaskara.
Aku menggeleng. “Bukan hanya aku saja, tapi kamu juga harus menjadi perwira yang hebat. Kita berdua.” Berusaha membenarkan tapi respon Bagaskara hanya tersenyum simpul.
DOR!!! DOR!!! DOR!!!
Aku tersentak. Itu suara tembakkan. Aku dan Bagaskara segera berlari menuju lapangan, berkumpul seperti tentara yang lain. Berbagai teriakan juga terdengar seperti ‘Kita diserang kita diserang’.
Dilapangan kami semua segera dipersenjatai lalu berlarian menuju medan. Tentara musuh benar-benar licik. Strategi mereka menyerang saat jam istirahat tentara kami. Bagaskara disampingku sudah banjir peluh, kami berdua sama-sama berjuang, menembaki tentara musuh yang terlihat. Sesekali Bagaskara menyeretku untuk ikut bersembunyi dan menyusun strategi kilat.
Ini kali pertama bagi kami berdua terjun ke medan langsung. Ada rasa takut di hatiku, tapi tidak di hati Bagaskara. Mata kawanku itu bahkan tidak pernah meredup, bahkan saat nyaris terkena tembakan pada titik vital tubuhnya.
“Bagaskara bersembunyilah sekali-kali.” Seruku. Bagaskara tak mempedulikan dan sibuk mengisi amunisinya, bahkan dia mengambil semua amunisiku. “Hei. Bagaimana dengan senjataku nanti?.” Suaraku tertahan.
Kini Bagaskara menggali sebuah lubang, tangannya cekatan sekali. “Chandra bantu aku.”
“Untuk apa ini?.”
“Jangan banyak tanya, lakukan saja.”
Aku menurut saja kemauan Bagaskara, toh otaknya itu memang tidak bisa ditebak. Beberapa menit kemudian lubang itu selesai dibuat. Bagaskara menyerahkan senjatanya yang sudah terisi penuh dengan amunisi itu kepadaku.
“Keluarlah Chandra, jangan sembunyi lagi. Tumpas mereka semua di medan perang. Biar aku yang membawa senjatamu, kau bawalah senjataku yang penuh dengan amunisi itu. Tapi ingat, gunakan seperlunya.”
“Lalu bagaimana denganmu? Sehebat apa kamu sampai berani tidak memakai senjata di medan perang sekalipun hah?.” Mataku merah, aku marah sekali kepada Bagaskara. Dia pikir dia siapa?
“Ayolah kawan, nanti kamu akan paham. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Waktu kita mepet sekali.”
Bagaskara mendorongku keluar, aku menolak tapi tubuhku terlanjur diketahui tentara musuh yang segera berlari menjauh. Mau tak mau aku harus mengejar mereka. Kutinggalkan Bagaskara seorang diri diantara semak-semak yang tinggi itu. Bagaskara melambaikan tangannya, tersenyum penuh arti sambil berteriak. “Chandra, balas hutangmu itu dengan menjadi perwira yang hebat.”
Dalam hati aku bertanya. Hutang? Hutang apa yang dimaksud? Aku tak terlalu memusingkan hal itu, aku segera berlari mengejar tentara musuh. Menjauh dari posisi Bagaskara.
Mataku terbelalak kaget, di tengah perang yang sedang berkecamuk, Bagaskara keluar dari tempat persembunyiannya, ia berlari kencang melewati semua tentara yang sedang adu tembak. Dipeluknya erat-erat sebuah koper hitam yang tidak asing untukku. Bagaskara melambaikan tangan ke arahku, tersenyum lebar dengan kaki yang terus berlari dan tubuhnya yang hendak ambruk karena beberapa peluru musuh bersarang di punggungnya.
Bagaskara bersimbah darah, ia tidak peduli dan terus berlari ke wilayah musuh, masih dengan koper hitam yang sangat janggal bagiku. Sampai di wilayah musuh Bagaskara berhenti, menatap lamat-lamat kearahku. Di sepersekian detik berikutnya suara ledakan terdengar di wilayah musuh. Banyak tentara musuh yang tumbang disana. Berjatuhan, terlempar, tercerai-berai dengan tubuhnya. Musuh resmi dilumpuhkan. Kami semua bersorak senang.
Aku terduduk lemas. Tentara lain juga melakukan hal demikian. Mimpi untuk memerdekakan negeri ini berhasil diraih. Karena adanya Bagaskara, matahari bagi kami semua. Bagaskara pergi dan berlari dengan memeluk bom yang dipasang oleh musuh di area kami. Dia dengan berani mengambil bom itu, memeluknya erat, lalu mengorbankan dirinya sendiri.
Aku menangis dalam diam. Sungguh ini terlalu cepat. Terlalu menyakitkan. Seutuhnya kemerdekaan ini untukmu Bagaskara, kawanku, matahari kami, penyulut api semangat kami. Akan kubayar hutangku dengan menjadi perwira hebat seperti katamu. Kemerdekaan ini untukmu kawan.
Penulis: Ivani Irtivaul Khusna.