Hiruk pikuk jalanan kota disiang hari berirama klakson kendaraan, serta panas matahari di tengah langit adalah santapanku setiap hari. Sepulang sekolah hingga malam hari, jalanan adalah tempatku untuk mencari pundi-pundi kehidupan di kemudian hari. Bermodalkan ukelele dan bungkus makanan ringan bekas aku mengelilingi kota untuk menyambung hidup.Saat ini aku duduk di bangku kelas 11 Sekolah Menengah Atas (SMA). Aku tidak memiliki cukup banyak teman. Mereka semua menjauhiku karena status sosial kami yang terpaut cukup jauh. Aku hanya memiliki seorang sahabat yang selalu menemaniku, namanya Radit. Dia selalu menemaniku dan menjadi tempat berceritaku saat aku lelah.
Sepulang sekolah seperti biasa aku langsung pergi ke perempatan jalan. Aku mulai menyanyikan beberapa lagu saat lampu lalu lintas memancarkan sinyal berhenti. “koe tau onk ning atiku koe bien ngancani uripku saikine koe malah ninggal janji palsu” senandungku sambil memetik ukuleleku. Sedikit demi sedikit uang mulai terkumpul. Aku mendapatkan uang yang cukup untuk makan malam ini dan makan besok pagi. Ku masukan uang itu di kantong celanaku dan akupun bergegas pergi pulang untuk menyelesaikan tugas sekolahku yang esok hari harus dikumpulkan.
Pagi ini aku bangun dengan kaki yang bengkak, mungkin sebab setiap malam aku selalu mengelilingi kota namun bagaimanapun kondisiku saat ini aku haru tetap pergi kesekolah. Sesampainya disekolah radit mendatangiku dengan sangat gembira. Aku bertanya kepadanya “kamu kenapa dit? Kelihatan sangat ceria tidak seperti biasanya”. “kamu belum lihat papan informasi sekolah? Sungguh belum lihat??” ucap radit kegirangan sambil menarik ku kedepan papan informasi sekolah. “tuh lihat kamu lolos seleksi olimpiade selamat yaaaa” ucap radit sambil memeluk ku kegirangan
Aku masih tidak menyangka bahwa aku lolos seleksi. Jika ibu masih ada pasti ibu sangat bangga padaku. Aku sangat rindu ibu sekarang, terkadang aku sering iri melihat teman-teman ku yang masih memiliki orang tua yang lengkap sedangkan aku, ibu sudah tiada dan ayahku kerja entah kemana. Namun hal itu tidak membuatku menyerah, malahan itu menjadi semangat ku untuk hidup sejauh ini.Aku memutuskan untuk ke makam ibu sepulang sekolah bersama radit. Suatu kebetulan radit ikut dengan ku untuk ke makam ibu. Katanya dia ingin berkenalan kepada ibu, ada-ada saja radit itu. Kami berjalan sambil bercerita tentang masa depan yang akan kita rangkai untuk kedepannya.
“ kamu mau jadi apa dimasa depan dim?” ujar radit kepada ku
“entah lah pokoknya aku mau buat ibu bangga dengan prestasi ku, kalo kamu? gimana dit? Kamu mau jadi apa di masa depan?”
“sepertinya aku bakalan meneruskan usaha bengkel ayah ku bagaimana menurutmu?”
“ide cemerlang itu aku akan dukung semua pilihan terbaikmu tetap semangat yaa” ucap ku dengan memeluk pundak radit
Tidak terasa aku dan radit sudah sampai di makam ibu. Sudah lama aku tidak kemari. Nisan ibu tertutupi oleh lebatnya rumput yang bertumbuhan, aku mulai mem
“ assalamualikum ibu ini aku, maaf aku lama tidak kemari. Aku kemari bersama radit, dia sahabat ku bu oh iya bu aku alhamdulillah aku lolos seleksi olimpiade matematika semoga bisa sampe nasional ya bu, terus doakan aku dari sana ya bu agar aku bisa lolos dan memenangkan olimpiade ini” ucap ku dengan sangat yakin
“benar tante dimas itu sangat semangat belajar untuk olimpiade ini terutama pasti tante sangat bangga sama dimas percaya deh sama radit” kami saling pandang dan terkekeh renyah
“yaaa sudah ibu aku dan radit pamit dulu yaa ini sudah sore, lain kali aku akan kemari lagi tetap doain aku ya ibu selalu iringi langkah ku ibu aku rindu padamu”
Kami pulang dengan bercerita tentang kehidupan kami, aku pergi bersama radit untuk mengamen sepulang dari makam ibu. Ntah angin mana radit ingin ikut dengan ku mengamen. Kami mulai menyanyikan banyak lagu, memutari banyak mobil dan motor berharap banyak orang baik yang membantu kami. Dan benar saja tuhan itu memang maha adil. Malam ini kami mendapat uang yang lebih banyak daripada biasanya. Aku membagi dua uang malam ini dengan radit. Walaupun ia tidak mau aku tetap memaksanya lagi pula ini jerih payah bersama.
Mentari pagi menyapa dengan sinarnya yang hangat, namun tak mampu menghangatkan dingin yang merayapi hati Dimas. Semalam suntuk ia belajar, memantapkan setiap rumus dan teori matematika yang akan diujikan. Rasa gugup bercampur semangat membara dalam dirinya. Ia ingin membuktikan kepada mendiang ibunya bahwa ia bisa meraih mimpi, bahwa segala keterbatasan tidak akan menghalanginya.
Dengan keyakinan yang membuncah, Dimas mengikuti olimpiade matematika di sekolahnya. Soal-soal yang rumit berhasil ia taklukkan satu per satu. Konsentrasinya penuh, seolah almarhumah ibunya hadir di sisinya, memberikan kekuatan. Pengumuman hasil seleksi membuatnya terlonjak bahagia. Ia lolos! Air mata haru tak tertahankan membasahi pipinya. Ia meraih mimpinya, setidaknya selangkah lebih dekat.
Sepulang sekolah, Radit sudah menunggunya di depan gerbang. Di tangannya tergenggam sebuah kotak panjang terbungkus kertas kado sederhana. "Selamat ya, Dim! Aku tahu kamu pasti bisa!" seru Radit sambil menyodorkan hadiah itu. "Ini buat kamu. Ukelele baru, biar makin semangat lagi nanti kalau lolos ke tingkat nasional."
Dimas terharu. "Dit, makasih banyak. Kamu memang sahabat terbaik," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tak sabar ingin segera pulang dan menceritakan kabar gembira ini kepada ibunya di makam.
Dengan langkah riang, Dimas berpamitan kepada Radit. Ia bergegas menuju halte bus. Di tengah ramainya lalu lintas siang itu, sebuah bajaj berwarna biru melaju kencang dari arah berlawanan. Dimas yang sedang menyeberang jalan sambil memikirkan bagaimana ia akan menyampaikan kabar bahagia ini di pusara ibunya, tak menyadari bahaya yang mengintai.
Tiba-tiba, suara benturan keras memecah kebisingan jalanan. Tubuh Dimas terhempas. Kotak berisi ukelele baru itu terlepas dari tangannya dan jatuh membentur aspal. Orang-orang di sekitar sontak berteriak histeris. Radit, yang masih berada tak jauh dari sana, membeku mendengar suara mengerikan itu. Ia menoleh dan melihat pemandangan yang membuatnya lemas seketika. Ia berlari sekuat tenaga menghampiri tubuh sahabatnya yang tergeletak tak bergerak.
Air mata Radit tumpah seketika. Ia memangku kepala Dimas, memanggil-manggil namanya dengan suara bergetar. Namun, Dimas tak lagi menjawab. Matanya terpejam rapat, senyum tipis masih tersungging di bibirnya yang pucat. Kabar kemenangan yang ingin ia sampaikan kepada ibunya kini tak akan pernah terucap. Ukelele baru yang menjadi simbol harapan dan persahabatan tergeletak рядом, menjadi saksi bisu sebuah mimpi yang baru saja diraih, namun seketika direnggut oleh takdir yang kejam. Radit лишь bisa menatap nanar kepergian sahabatnya, sebuah kehilangan yang begitu mendalam, sebuah lagu kemenangan yang tak pernah sempat dimainkan di pusara sang ibu.