Dari Persiapan Kilat hingga Babak Final, Dua Murid MAUWH Buktikan Bahasa Arab Bisa Jadi Jalan Prestasi
MAUWH.SCH.ID – 2 November 2026, Siapa bilang waktu persiapan yang singkat menjadi penghalang untuk berprestasi? Dengan semangat belajar, latihan intensif, dan strategi yang matang, dua murid MA Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh (MAUWH) Tambakberas Jombang, Koen Azka Zachari dan Kesit Wahyu Aryawindu, menunjukkan perjuangan inspiratif dalam kompetisi IMATHOh (Cerdas Cermat Bahasa Arab) yang diselenggarakan oleh Pengurus Bidang Pengembangan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Koen Azka Zachari dan Kesit Wahyu Aryawindu merupakan murid kelas X-2. Koen berasal dari Dusun Tanjung Lor, Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Sementara Kesit berasal dari Desa Buana Mustika, Kecamatan Telaga Antang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah.
Kompetisi IMATHOh menjadi ajang untuk menguji ketangkasan berbahasa Arab, khususnya dalam penguasaan mufrodat (kosakata) dan qawaid (tata bahasa). Tidak hanya mengandalkan hafalan, para peserta juga dituntut memiliki kemampuan memahami soal, berpikir cepat, dan mengambil keputusan secara tepat.
Perjalanan kompetisi dimulai pada 8 Oktober 2026 melalui babak penyisihan secara daring menggunakan Zoom Meeting. Para peserta harus menyelesaikan 45 soal dalam waktu 40 menit, terdiri atas 35 soal pilihan ganda dan 10 soal benar-salah.
Materi yang diujikan meliputi mufrodat, mahfudhot, qawaid nahwu-shorof, sejarah melalui kitab Khulashoh Nurul Yaqin juz 1 dan 2, serta pengetahuan IPA dan IPS.
Tantangan semakin besar karena peserta harus memahami soal berbahasa Arab dalam waktu yang terbatas. Ketelitian dan kecepatan menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Hasil penyisihan diumumkan pada 16 Oktober 2026. Enam peserta dengan nilai tertinggi berhasil melaju ke babak final yang dilaksanakan secara luring pada 29 Oktober 2026 di Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Pada babak final, setiap peserta mendapatkan lima soal wajib yang dijawab secara lisan dan bergantian. Setelah satu putaran soal wajib selesai, persaingan berlanjut melalui 15 soal rebutan.
Setiap jawaban benar memperoleh 100 poin, sedangkan jawaban salah mendapat pengurangan 50 poin. Sistem ini membuat setiap peserta harus berpikir matang sebelum menekan bel.
Menghadapi persaingan yang ketat, Koen dan Kesit menerapkan strategi khusus yang mereka sebut sebagai “celengan poin”.
Pada sepuluh menit pertama, peserta berupaya mengumpulkan poin sebanyak mungkin dengan target tambahan 400 poin. Selanjutnya, pada menit ke-10 hingga ke-20, strategi beralih ke mode bertahan.
Dalam kondisi tersebut, peserta harus lebih selektif dalam menjawab. Tidak asal menekan bel, tidak terburu-buru, dan hanya menjawab soal ketika benar-benar yakin.
Strategi ini menjadi salah satu pembelajaran berharga dari kompetisi IMATHOh. Kemampuan menguasai materi harus diimbangi dengan pengendalian diri, ketenangan, dan ketepatan dalam mengambil keputusan.
Di balik strategi tersebut, terdapat proses persiapan yang tidak mudah. Keduanya melakukan penguatan materi pokok, bedah qawaid, menghafal materi, latihan soal tertulis, latihan tanya jawab menggunakan bahasa Arab, hingga simulasi lomba.
Informasi lomba yang baru diketahui menjelang penutupan pendaftaran membuat waktu persiapan babak penyisihan menjadi sangat terbatas. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat mereka.
Setelah berhasil masuk enam besar, keduanya kembali mempersiapkan diri selama kurang lebih 12 hari menuju babak final.
Bagi Koen dan Kesit, mengikuti kompetisi IMATHOH bukan sekadar mengejar kemenangan. Ajang ini menjadi pengalaman luar biasa untuk menguji kemampuan diri, memperluas wawasan, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam berbahasa Arab.
“Alhamdulillah, senang dan bersyukur sekali bisa berkesempatan mengikuti perlombaan IMATHOh ini. Kami akan berusaha lebih baik lagi,” ungkap peserta.
Mereka juga berharap prestasi yang diraih dapat menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan bahasa Arab.
“Juara ini bukan puncak, tetapi tangga pertama. Semoga semakin menambah semangat belajar bahasa Arab sebagai bekal untuk studi di jenjang selanjutnya. Kami menang bukan karena paling pintar, tetapi karena Allah mudahkan untuk kami.”
Ungkapan tersebut mencerminkan sikap rendah hati dan rasa syukur atas setiap proses yang telah dilalui. Sebuah prestasi bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk terus berkembang dan memberikan manfaat.
Guru pembimbing turut menyampaikan apresiasi atas kerja sama, kedisiplinan, dan semangat belajar yang ditunjukkan oleh kedua murid selama proses persiapan.
“Terima kasih anak-anak atas kerja sama yang luar biasa ini. Harapannya, tetap semangat mengikuti event perlombaan bahasa Arab selanjutnya. Ini adalah amanah. Jangan berhenti membina, niatkan ibadah,” ungkap pembimbing.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa pembinaan yang konsisten, semangat belajar, serta dukungan guru dapat membuka jalan bagi murid untuk mengembangkan potensi dan meraih keberhasilan.
MAUWH terus berkomitmen menghadirkan lingkungan pendidikan yang mendorong murid untuk tumbuh, berani mencoba, dan berprestasi dalam berbagai bidang.
Selamat dan sukses! Semoga perjuangan Koen Azka Zachari dan Kesit Wahyu Aryawindu menjadi inspirasi bagi seluruh murid MAUWH untuk terus belajar, berjuang, dan menorehkan prestasi.