Artinya: Sesungguhnya sedekah itu benar-benar dapat memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sesungguhnya orang mukmin kelak di hari kiamat hanyalah bernaung dalam naungan sedekahnya. (Hadits Riwayat Thobaroni dari Uqbah bin Amir)
Sedekah merupakan salah satu bentuk ibadah yang istimewa.
Sedekah sebagaimana kita ketahui dan rasakan di tengah-tengah masyarakat adalah jenis ibadah yang paling disukai banyak orang, terutama sang penerima. Sedekah terbukti mampu mencairkan hubungan antara yang kaya dengan yang miskin.
Sedekah terbukti mampu mencairkan hubungan antara yang kaya dengan yang kaya, bahkan yang miskin dengan yang miskin. Sedekah juga terbukti mampu merekatkan hubungan antara atasan dengan bawahan, antara yang memimpin dengan yang dipimpin. Sedekah terbukti mampu merekatkan hubungan sesama atasan atau pimpinan, bahkan sedekah juga mampu merekatkan hubungan antara sesama bawahan.
Ringkas cerita, sedekah dapat menjadi sarana bagi terbangunnya hubungan antar manusia atau hablun minan-nas.
Dalam tradisi kita, tradisi bangsa Indonesia, khususnya warga Nahdlatul Ulama, memberi dan menerima sudah menjadi bagian dari sarana komunikasi.
Itulah fakta yang barangkali sering kita saksikan dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari di dunia ini.
Namun, berkaca dari hadits di atas. Ternyata sedekah tidak hanya ampuh membangun komunikasi antar sesama. Lebih dari itu, sedekah juga efektif menyambungkan hubungan kita dengan Sang Pencipta atau hablun minalloh. Sekali beramal dua keuntungan kita dapatkan, hablun minalloh wa hablun minan-nas.
Kaitannya dengan hablun minalloh. Pada hadits di atas Rasululloh SAW., menyatakan bahwa ketika di alam barzah sedekah berperan untuk memadamkan panasnya kubur bagi pelaku sedekah. Dan kelak di hari kiamat sedekah dapat menjadi tempat bernaung pada saat tidak ada tempat bernaung selain naungan Alloh SWT.