Gimo, Penggembala Domba Yang Sukses Meraih Gelar Sarjana
MAUWH.SCH.ID
Saat ini, masih banyak ditemukan kasus anak putus sekolah dengan alasan kurang didukung oleh faktor ekonomi. Meskipun, beasiswa banyak bertebaran, namun faktanya masih ada yang menyalahgunakan hal tersebut.
Suyadi, akademisi yang berprofesi sebagai Dosen tetap Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini telah berhasil merampungkan karya pertamanya dibidang pendidikan anak dengan judul 'Miskin bukan Halangan Sekolah, Buku Bacaan Inspiratif Pendobrak Keterpurukan' yang terbit 2011 silam.
Sebelumnya, pria kelahiran Sleman tersebut telah sukses menerbitkan beberapa coretan pena miliknya. Seperti, Keajaiban Puasa Senin Kamis terbit di Mitra Pustaka tahun 2007,Quantum Dzikir yang diterbitkan Diva Press tahun 2008 dan masih banyak karya lainnya.
Buku dengan tebal 280 halaman ini membahas bukti nyata bahwa orang dengan perekonomian menengah ke bawah dengan bermodal niat dan semangat pasti mampu menempuh pendidikan yang layak. Untuk membuktikan pernyataan tersebut, penulis secara khusus akan memaparkan beberapa kisah inspiratif anak-anak fakir miskin yang mampu menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.
Dikisahkan Gimo, anak penggembala domba yang sukses meraih gelar sarjana. Ia merupakan sosok anak yang rajin dan taat kepada orang tuanya. Meskipun dirinya bukanlah golongan anak yang pintar dibidang akademik seperti teman sebayanya. Namun, Gimo memiliki semangat belajar yang tinggi. Ia selalu mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) nya walaupun hampir semua salah. Gimo tidak patah semangat dengan hasil yang dicapainya.
Hal unik dan inspiratif yang tidak dilakukan oleh teman seumurannya, ia tidak pernah membawa uang saku untuk pergi ke sekolah, padahal jarak dari rumah ke sekolah harus ia tempuh dengan jalan kaki kurang lebih selama dua jam perjalanan. Bukan bekal makanan yang diminta dari orangtuanya namun kayu bakar yang dibawanya dari rumah.
Hal tersebut dilakukan Gimo ketika berangkat sekolah karena kebetulan ia melewati pasar setiap harinya, sehingga ia memanfaatkan peluang itu untuk menjual kayu bakar sebagai penyambung hidup.
Kapan Gimo mencari kayu bakar? Sedangkan tepat pulang sekolah ia selalu menggembala domba semata wayangnya. Ya, dia mencari kayu bakar dan menggembala dalam waktu yang bersamaan. Sampai di ladang, domba ia ikat dengan pohon. Kemudian, dengan cepat dan sigap ia tinggalkan domba kesayangannya untuk mencari kayu bakar.
Rutinitas seperti ini Gimo lakukan hingga ia lanjut sekolah sampai mampu menempuh gelar sarjana. (Hal.133-139)
Kisah Gimo hanyalah sebagian kecil dari beberapa cerita yang ada dalam buku ini. Hal ini dapat menjadikan motivasi bagi para pembaca bahwa apapun latar belakang kehidupan seseorang, jika ada kemauan pasti akan diberikan jalan oleh Tuhan. Selain itu, isi dalam buku ini juga bisa dijadikan sebagai bahan refleksi agar tidak tumbuh menjadi orang pemalas, pandai bersyukur dan tidak memandang rendah orang lain.
Identitas Buku
Judul : Miskin Bukan Penghalang Sekolah, Buku Bacaan Inspiratif Pendobrak Keterpurukan
Penebit : Bukubiru
Tahun Terbit : 2011
Tebal : 280 halaman
Peresensi : Resta Dian Shaputri siswa kelas X MIPA 2
Editor : Risalatul Mu'awanah