Rasa Malu Sebagai Pengendali Nafsu
Azizah Hefni, perempuan kelahiran April 1987 ini merupakan alumni Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang yang sudah memiliki banyak coretan pena. Diantara karya-karyanya adalah Pacaran After Married yang diterbitkan oleh De Teens, Ibadah Yuk! oleh penerbit Saufa dan Press Your Syahwat yang diterbitkan oleh DIVA Press, yang mana ketiganya launching di Tahun 2014. Namun kali ini penulis tertarik untuk mengulas bukunya yang berjudul ‘Jika Tidak Malu Berbuatlah Sesukamu’.
Buku setebal 191 halaman ini mengupas banyak hal terkait makna rasa malu, tips memupuk rasa malu hingga melawan rasa tidak punya malu. Dalam hal ini dijelaskan bahwa ‘malu’ merupakan kontrol diri yang paling kuat yang menjadi salah satu sarana untuk menjaga seseorang dari perbuatan buruk. Sebaliknya, jika rasa tersebut tidak dihiraukan maka seseorang akan berbuat sesuatu tanpa terkendali.
“Para penguasa saling berebut kekuasaan. Saling menebar fitnah dan mengutamakan kepentingan pribadi. Bahkan, demi kesejahteraan dirinya, banyak yang mengambil uang rakyat, melakukan kebohongan publik, menyuap, melakukan pencucian uang, dan lain sebagainya. Ironisnya, mereka yang telah melakukan kejahatan adalah para pemimpin yang memiliki riwayat akademik tinggi dan beragama Islam seolah-olah rasa malu terhadap Tuhan sudah tiada.” (Hal. 65-70).
Perempuan asal Surabaya ini mendefinisikan bahwa rasa malu merupakan suatu sifat alamiah yang mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan, ketaatan, serta mencegahnya dari perilaku buruk yang memalukan. Istilah ‘malu’ bisa diartikan sebagai akhlak yang jauh dari hal-hal buruk. Dikatakan ‘punya malu’, berarti punya kesadaran atas hal-hal buruk dan tidak melakukannya. Seseorang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah swt yang harus patuh dan menjalankan seluruh perintah-Nya. (Hal. 14-21).
Penulis berpendapat bahwa modernisasi menjadikan lunturnya nuansa spiritual, banyak orang yan lebih mengutamakan popularitas, kesejahteraan materi, jabatan dan sejenisnya daripada mendalami ilmu agama secara benar dan istiqamah. Perkara ma’ruf dan munkar sudah tercampuraduk. Sehingga, batas keduanya menjadi samar. Banyak orang rela membayar rasa malu mereka atas kemungkaran dengan mengorbankan kema’rufan.
Buku ini sangat menarik sebagai tambahan wawasan keilmuan para pembaca, bahasa yang digunakan sangat mudah dipahami, nasihat-nasihat yang ada diperkuat dengan landasan Al-Qur’an dan hadist, layout buku ini dengan sedikit bait pada setiap paragraph menjadikan pembaca tidak jenuh untuk terus membaca hingga akhir bab.
Identitas Buku
Judul : Jika Tidak Malu, Berbuatlah Semaumu
Penerbit : DIVA Press
Tahun Terbit : 2015
Tebal : 191 halaman
Peresensi : Resta Dian Shaputri
Editor : Risalatul Mu’awanah